Senin, 18 Feb 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Pertumbuhan Hotel Baru di Jatim Diprediksi Turun 3-4 Persen

08 Februari 2019, 21: 15: 59 WIB | editor : Wijayanto

BERKEMBANG: Pengunjung menikmati fasilitas di kamar salah satu hotel di Surabaya.

BERKEMBANG: Pengunjung menikmati fasilitas di kamar salah satu hotel di Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur memprediksi pertumbuhan hotel baru di Jawa Timur akan mengalami penurunan yang cukup signifikan sepanjang tahun ini. Yakni di angka 3-4 persen. Hal ini dikarenakan keterbatasan lahan dan telah menjamurnya hotel-hotel berbintang dari berbagai kelas.
 
Ketua Badan Pimpinan Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur Herry Siswanto mengatakan, sampai saat ini anggota PHRI di Jawa Timur kurang lebih ada sekitar 630-650 anggota yang berarti juga ada sekitar 650-an jumlah hotel di Jawa Timur. Sedangkan di Surabaya sendiri kurang lebih terdapat 95 anggota PHRI.

Jumlah tersebut dinilai sudah sangat cukup. “Mulai dari ujung Surabaya timur sampai dengan Surabaya barat sekarang sudah penuh dengan hotel. Persentase pertumbuhan hotel baru di Jatim sepanjang 2018 ada sekitar 7 persen dibadingkan tahun sebelumnya. Dan di Surabaya sendiri tahun ini diprediksi akan ada tambahan lagi, seperti Hotel Dafam. Oleh karena itu pertumbuhan masih akan tetap ada, tetapi tidak banyak,” terangnya di Surabaya, kemarin (8/2).
 
Herry juga mencatatkan, sepanjang 2018 kemarin, ada sekitar 10-12 hotel di Surabaya yang masuk sebagai anggota baru PHRI. Tambahan tersebut didominasi oleh hotel bintang 3, bintang 4 dan bintang 5. “Paling banyak hotel bintang 3. Karena ratenya juga tidak terlalu tinggi,” ujarnya. 

Sedangkan untuk tahun ini, Herry menyebutkan kalaupun akan ada tambahan hotel baru, bukan jenis hotel berbintang. “Saat ini kategorinya adalah hotel berbintang dan hotel non bintang. Hotel non bintang ini yang dulunya disebut hotel melati, dan biasanya berada di kawasan wisata. Kalau pertumbuhan hotel non bintang, khususnya di kawasan resort memang sangat pesat dari tahun ke tahun,” imbuhnya.
 
Selain itu, menurut Herry, faktor lain yang juga mendukung turunnya pertumbuhan hotel baru disebabkan karena pertumbuhan apartemen yang juga tumbuh pesat. “Sehingga saat ini, banyak orang atau badan hukum yang membeli apartemen yang kemudian disewakan. Sehingga bisa dikatan bisnis hotel terselubung karena non badan hukum. Sekarang kondisinya seperti itu, sudah menjamur,” tuturnya.
 
Herry menambahkan, adapun pertumbuhan okupansi hotel di Jatim selama 2018 mencapai 64,2 persen (yoy). Hal ini dikarenakan bisnis hospitality tidak lepas dari bisnis goverment. “Bisa dibilang kami ini menengadah dari pemerintah, khususnya MICE. Sehingga, MICE merupakan salah satu andalan dari bisnis hospitality itu sendiri,” imbuhnya. Kontribusi MICE bisa mencapai 35 persen terhadap pertumbuhan hotel. Herry menyebut, pertumbuhan MICE di sepanjang 2018 dinilai cukup bagus. Begitu pula ketika MICE meningkat, maka secara otomatis F&B pun mengikuti. (cin/jay)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia