Kamis, 23 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo
Ki Subur, Dalang Wayang Potehi Asal Sidoarjo

Panen Tanggapan Setiap Sincia

06 Februari 2019, 00: 09: 16 WIB | editor : Wijayanto

UNIK: Ki Subur bersama kedua putranya, Alfian dan Ringgo, saat memainkan wayang potehi.

UNIK: Ki Subur bersama kedua putranya, Alfian dan Ringgo, saat memainkan wayang potehi. (ISTIMEWA)

Share this      

Tahun Baru Imlek atau Sincia selalu menjadi momentum yang ditunggu Ki Subur, 56. Meski bukan warga Tionghoa, dalang wayang potehi dari Sidoarjo ini selalu panen tanggapan.

Yusrizal-Wartawan Radar Sidoarjo

JAUH sebelum Sincia alias tahun baru Tionghoa, Ki Subur bersama kru wayang potehi pimpinannya sudah berada di Jakarta. Maklum, ada pertunjukan di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Dia juga ditanggap sejumlah kelenteng di sekitar ibu kota Republik Indonesia itu.

“Main wayang potehi di Jakarta itu sudah jadi agenda tahunan saya. Sejak zaman Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Alhamdulillah, saya diberi rezeki melalui pertunjukan wayang potehi khas Tionghoa,” katanya pekan lalu.

Dalang wayang potehi yang biasa mangkal di Kelenteng Tjong Hok Kiong, Sidoarjo, ini mengaku memainkan lakon sesuai keinginan pemesan. Jelang Tahun Babi Tanah ini, pihak mal di Jakarta meminta lakon klasik tentang Tie Pat Kay. Lakon Tie Pat Kay ini sesuai dengan shio pada Sincia tahun ini, yaitu babi tanah. 

Tie Pat Kay, murid kedua Pendeta Tong, dalam perjalan ke barat untuk membawa kitab suci. "Saya jelaskan dalam cerita kenapa Tie Pat Kay turun ke dunia. Sebelumnya dia adalah pangeran di langit," tuturnya.

Pria bernama asli Sugiyo Waluyo ini menjelaskan bahwa sejak masa pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid, wayang potehi tidak hanya tampil dalam hajatan Tionghoa di kelenteng-kelenteng saja. Pentas wayang potehi juga diadakan di plaza, hajatan rumah, atau pesta reuni, hingga hotel berbintang. "Wayang potehi itu langka. Makanya, banyak orang yang tertarik," ujarnya.

Seperti pertunjukan wayang kulit atau wayang golek, pentas wayang potehi diiringi orkes musik. Di antaranya, trompet, tambur, kecer, seruling, dan rebab. Para pemain musik itu tak lain warga Sidoarjo yang selama ini mengikuti pertunjukannya di berbagai kota. Termasuk dua anak kandungnya, Alfian dan Ringgo.

Menurut seniman kelahiran 17 Mei 1962 itu, satu lakon wayang potehi bisa dipentaskan sampai satu bulan. Setiap hari sang dalang memainkan beberapa adegan. Ini karena pihak kelenteng memang menginginkan pertunjukan wayang potehi dalam waktu lama sebagai bagian dari ritual di kelenteng.

“Ada atau tidak ada penonton, saya dan tim harus bermain dengan serius dan profesional. Sebab, wayang potehi ini kesenian yang dipersembahkan untuk para dewa,” katanya.

Berbeda dengan di kelenteng, Ki Subur mengungkapkan, pertunjukan wayang potehi di plaza atau mal biasanya dipadatkan durasinya menjadi dua hingga tiga jam. Bahkan, kadang hanya satu jam saja. Karena itu, pria yang belajar potehi sejak berusia 12 tahun itu harus memadatkan cerita. “Langsung ke intinya. Guyonan-guyonannya pasti dikurangi,” katanya.

Wayang potehi merupakan pertunjukan boneka yang terbuat dari kain. Ki Subur memainkan lakon dengan memasukkan tangan dalam kain untuk menggerakkan boneka. Sang dalang yang asli Jawa ini menggunakan bahasa campuran Indonesia, Jawa, Hokkian, hingga Mandarin. (*/rek)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia