Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya
Agar Tak Terdampak Tol Trans Jawa

Pedagang di Jalan Nasional Perlu Diperhatikan

02 Februari 2019, 14: 45: 39 WIB | editor : Wijayanto

Tol Trans Jawa

Tol Trans Jawa (DOK/JPG)

Share this      

SURABAYA – Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur Achmad Heri meminta kepada pemerintah agar memperhatikan pedagang yang ada di sepanjang Jalan Nasional yang dimulai dari Mojokerto, Jombang dan seterusnya. Menurutnya sejak diresmikannya tol Trans Jawa ini pedagang mengeluhkan omzetnya menurun drastis.

“Saya sangat mengapresiasi diresmikannya tol Trans Jawa ini sehingga akses menjadi mudah dan mengurangi kemacetan. Hanya saja setiap kebijakan tentu akan ada dampaknya,” ujarnya kepada Radar Surabaya, Jumat (1/2).

Menurut pria yang akrab disapa Heri ini  perlahan tapi pasti, kelompok masyarakat yang memiliki usaha mikro kecil menengah akan merasakan dampaknya, dan terancam usahanya. Kelompok itu terdiri atas para pengusaha rumah makan atau restoran hingga pusat oleh-oleh khas daerah.

Heri mengatakan berdasarkan keterangan pedagang yang mengeluhkan omzetnya menurun adalah  jumlah kendaraan yang melintas dan mampir tak sebanyak tahun-tahun lalu. Padahal saat musim liburan, deretan pedagang oleh oleh di sepanjang jalur itu selalu dipenuhi pembeli. “Berkurangnya jumlah kendaraan yang melintas di jalur nasional itu kerena sekarang masyarakat lebih memilih jalur tol,” tegasnya.

Lebih lanjut Heri mengimbau agar Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) maupun Dinas PU Bina Marga menggandeng para pelaku usaha  yang ada di sepanjang jalan nasional. BPJT menurutnya bisa menyediakan lahan yang bisa digunakan masyarakat untuk berjualan.

“Dengan memanfaatkan lahan seperti rest area, setidaknya usaha masyarakat masih tetap dapat bertahan. Apalagi tol ini memiliki jalur yang panjang sehingga membutuhkan banyak rest area di setiap titik,” jelasnya.

Pihaknya mengimbau agar pedagang yang berada di rest area itu pelaku usaha kecil menengah (UKM) bukan pemain ekonomi besar. Selain itu pelaku UKM yang diperbolehkan berdagang di rest area tidak menjual produknya dengan harga yang lebih mahal.

“Biasanya mereka menjual dengan harga mahal lantaran sewa lahannya juga mahal. Inilah yang harus dilakukan pembahasan bersama,” pungkasnya. (mus/rud)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia