Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Pentas Teater DOR, Refleksi Mencari Keadilan

01 Februari 2019, 07: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

SARAT PESAN MORAL: Sejumlah pemain teater yang tergabung dalam Teater Api Indonesia (TAI) Surabaya menggelar geladi bersih pementasan DOR, di gedung C

SARAT PESAN MORAL: Sejumlah pemain teater yang tergabung dalam Teater Api Indonesia (TAI) Surabaya menggelar geladi bersih pementasan DOR, di gedung Cak Durasim Surabaya, Kamis (31/1). Lakon DOR merupakan karya Putu Wijaya yang disutradarai Luhur Kayungga (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

Surabaya – Kemarin malam, Kamis (31/1), Gedung Kesenian Cak Durasim diramaikan pertunjukan teater dari Teater Api Indonesia (TAI). DOR, naskah karya Putu Wijaya dipilih pada pertunjukkan kali ini.

Putu Wijaya dalam karyanya adalah orang yang selalu mengusung gagasan dan spirit lokalitas dalam kemasan kekinian. Tapi seiring berjalannya waktu, tokoh, dialog, jalan cerita menjadi bahasa ungkap yang sangat konvensional dan tidak punya relevansi lagi dalam konteks kreativitas. 

Ditemui saat gladi resik, Luhur Kayungga selaku sutradara, menjabarkan alasan mengangkat naskah tersebut. 

“Ada penawaran gagasan-gagasan yang berbeda. Di dalam naskahnya Putu itu lebih konvensional, masih mengedepankan jalan cerita, penokohan-penokohan. Kalau teater ini berangkat pada substansinya. Apa yang dimaui Putu didalam pemikiran naskah ini. Gitu lo. Kita mencari gagasan visual atau angle-angle persoalan dari naskah itu,” terangnya.

Naskah teater DOR bercerita tentang lelaki anak gubernur yang membunuh seorang wanita. Hakim yang mengadili berada di posisi sulit apakah harus menjatuhi hukuman pada lelaki tersebut. Semua menjadi panas. Terpecahlah menjadi kelompok bendera putih dan kelompok berbaju hitam. Tapi, keadilan harus ditegakkan. Akhirnya si lelaki ‘didor’ dan mayatnya digantung oleh sekelompok orang yang tidak puas dengan praktik keadilan. Ayah si lelaki berbalik membela martabat anaknya, dan ‘mendor’ hakim. 

Bagi Luhur, pertunjukkan dari TAI kali ini lebih menitikberatkan ke persoalan keadilan. Keadilan menjadi hal transaksional, kapitalistik, dengan cara-cara arogansi kekuasaan. “Di dalam dunia peradilan saja sudah mengalami kebobrokan-kebobrokan. Apakah benar keadilan benar-benar ada. Bukan hanya dalam satu wacana-wacana. Banyak peristiwa-peristiwa cukup besar yang terkontaminasi,” pungkasnya. (rpp/nur) 

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia