Senin, 09 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Maret, Bulog Akan Impor Lagi Jagung 30 Ribu Ton

28 Januari 2019, 23: 46: 18 WIB | editor : Wijayanto

UNTUK PETERNAK: Sejumlah alat berat saat merapikan jagung untuk didistribusikan kepada peternak, saat tiba di Gudang Bulog, Surabaya.

UNTUK PETERNAK: Sejumlah alat berat saat merapikan jagung untuk didistribusikan kepada peternak, saat tiba di Gudang Bulog, Surabaya. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Divisi Regional Jawa Timur menyebutkan Indonesia sempat mengekspor jagung sebanyak 372 ribu ton pada tahun 2018. Namun karena musim tanam yang disebabkan oleh hujan dan kebutuhan pakan ternak akhirnya membuat Indonesia melakukan impor jagung.

Kepala Bulog Divre Jatim Muhammad Hasyim mengatakan sebanyak 26200 ton jagung diimpor asal Brazil sudah tiba di gudang yang disewa Bulog  di kawasan pergudangan Romokali Surabaya, Kamis (24/1). Impor jagung kali ini sudah memasuki tahap dua. Menurutnya Bulog sudah impor jagung beberapa bulan yang lalu sebesar 60.000 ton. “Awal Maret Bulog akan impor lagi sebanyak 30.000 ton. Dan ini tetap untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak,”  ungkapnya.

Meski jagung impor tersebut baru saja tiba di Teluk Lamong Rabu (23/1) malam, namun stoknya sudah habis. Menurutnya jagung tersebut tidak hanya khusus untuk pulau Jawa saja tapi juga daerah-daerah lainnya di Indonesia. “Kalau kita silahkan saja, karena tidak ada instruksi kepada kami untuk pembatasan kuota,” jelasnya.

“Sebenarnya kita sempat mengalami surplus jagung yang kemudian kita ekspor. Sehingga ketika kebutuhan pakan ternak meningkat kita tidak bisa memenuhi dan harus impor,” imbuhnya.

Hasyim mengatakan banyaknya peternakan ayam di Jawa Timur membuatnya mendapatkan jatah jagung impor paling banyak dibanding daerah lainnya. Menurutnya jagung impor ini tidak akan mempengaruhi keberadaan jagung lokal yang akan segera panen diperkirakan pada bulan Maret. “Kami tetap akan membeli jagung-jagung dari para petani tersebut. Sehingga kita tidak sampai kekurangan stok jagung,” katanya.

Sementara itu meski produksi jagung di Jawa Timur mengalami surplus, namun Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim mengaku belum bisa memenuhi kebutuhan pakan ternak. Hal ini  disebabkan karena masa panen jagung sama seperti padi, yang tidak panen tiap bulannya.

“Produksi jagung pada 2018 sekitar 6.543.359 ton pipilan kering. Jumlah ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang produksinya mencapai 6,2 juta ton jagung pipilan kering,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur Hadi Sulistyo.

Hadi mengatakan produksi jagung mengalami surplus 6,4 juta ton karena kebutuhan pangan di Jatim hanya 122. 724 ton. Hampir 95 persen jagung untuk pakan ternak. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan hanya 5 persen. Menurutnya peningkatan produksi hampir 2,4 persen ini karena ditunjang peningkatan luas panen sekitar 2,1 persen.

Ia menambahkan pada musim tanam Oktober 2017 sampai September 2018, lahan menanam jagung mencapai 1.173.467 hektare. Sedangkan sentra tanaman jagung terluas ada di Kabupaten Tuban, Kabupaten Jember, Kabupaten Lamongan dan Madura. Meski demikian hal tersebut tidak mampu mencukupi kebutuhan pakan ternak. (mus/nug)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia