Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Demand Meningkat, Industri Garmen Terus Tumbuh

28 Januari 2019, 23: 35: 27 WIB | editor : Wijayanto

TERUS BERKEMBANG: Seorang pengunjung sedang memilih pakaian di salah satu toko di kawasan MERR Surabaya.

TERUS BERKEMBANG: Seorang pengunjung sedang memilih pakaian di salah satu toko di kawasan MERR Surabaya. (HERNINDA CINTIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Tren fashion senantiasa berubah dengan cepat. Dalam hitungan bulan, selalu muncul mode fashion baru. Namun demikian, Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia sangat berpotensi menguasai industri garmen, khususnya fashion muslim dunia.

Hal ini dibenarkan oleh pemilik Indah Bordir Laila Cahyawati. Menurutnya, kebutuhan pakaian muslim sampai saat ini masih terus dicari. Begitu pula dengan pakaian batik sebagai pakaian ciri khas orang Indonesia, hampir tidak pernah sepi peminat. "Oleh karena itu, industrifashion, khususnya pakaian muslim dan batik masih tetap tumbuh positif," ujarnya di sela-sela pembukaan Gerai Indah Bordir ke-3 di Surabaya. 

Berkaca dari dua gerai sebelumnya, animo masyarakat di kedua gerai tersebut tiap tahunnya terus meningkat. "Untuk itu, agar bisa menjangkau konsumen lebih luas dan memenuhi kebutuhan fashion muslim dan batik terutama, kami menambah cabang ketiga," katanya.

Dia menjelaskan, di tiap-tiap cabang Indah Bordir membidik konsumen yang berbeda-beda. Misal cabang di Jalan Ngagel Surabaya membidik konsumen yang lebih membutuhkan pakaian muslim. "Karena di sana memang 75 persen kebutuhan yang disediakan ialah pakaian muslim. Sedangkan di cabang ketiga ini lebih banyak ke batik," jelasnya.

Sementara cabang di Sidoarjo menyediakan semua kebutuhan fashion. Hanya saja mayoritas konsumen ialah para rombongan, baik di sekitar wilayah Indah Bordir maupun luar kota. "Karena kalau cabang di Sidoarjo sudah menjadi jujugan pariwisata bagi masyarakat luar Sidoarjo baik untuk oleh-oleh maupun lainnya," tambahnya.

Laila menambahkan, untuk pasokan (supply) pakaian muslim maupun batik yang disediakan Indah Bordir, pihaknya menggandeng lebih dari 100 mitra baik, home industry maupun pabrikan. Sistem antara Indah Bordir dengan para supplier ialah beli putus bukan titip. Dalam artian sekali melakukan transaksi agar tidak ada beban satu sama lain.

"Dulu memang pemasoknya banyak yang home industry atau tradisional, terutama pakaian bordir. Namun, sekarang kan bordir lama jadi ada beberapa yang langsung barang jadi dari pabrikan. Beli barangnya sistem beli putus supaya sama-sama tidak ada beban," papar Laila.

Meski begitu, lanjut Laila, kebutuhan fashion di Indah Bordir selalu mengikuti tren yang ada di pasaran agar bisa menggaet minat konsumen, sekaligus membuat konsumen bisa melakukanrepeat order.

"Kalau tidak begitu bisa ketinggalan, seperti kebaya brokat untuk pergi kondangan dibuat sederhana namun elegan," imbuhnya.

Sementara, berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian, industri busana muslim diperkirakan menyerap tenaga kerja sebanyak 1,1 juta orang dari total 3,8 juta tenaga kerja industri fashion. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia