Minggu, 21 Apr 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Kemenlu Gali Potensi Ekspor Produk Manufaktur Jatim

28 Januari 2019, 21: 14: 44 WIB | editor : Wijayanto

HARUS DIPROMOSIKAN: Ketua Forkas Jatim Nur Cahyudi (tiga dari kanan) dan Sekjen Kemenlu Mayesfas (kanan) sedang meninjau produk sepatu Jatim dalam Dia

HARUS DIPROMOSIKAN: Ketua Forkas Jatim Nur Cahyudi (tiga dari kanan) dan Sekjen Kemenlu Mayesfas (kanan) sedang meninjau produk sepatu Jatim dalam Dialog 23 Duta Besar dan Konsul RI dengan Forkas Jatim di Hotel Swiss Belin Juanda, Senin (28/1). (HERNINDA CINTIA/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menggali potensi ekspor komoditas produk manufaktur asal Jawa Timur (Jatim) melalui kerja sama dengan Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha (Forkas) Jatim. Sebelum memberangkatkan para Duta Besar yang telah dilantik Presiden Joko Widodo pada Januari 2019 ke berbagai negara, Kemenlu menggelar dialog dengan para pengusaha untuk menjajaki potensi komoditas ekspor.

Sekjen Kemenlu Mayerfas mengatakan, pertemuan 21 duta besar (dubes) RI dan 2 konsulat jenderal (konjen) dengan pengusaha Jatim ini merupakan yang pertama kalinya dalam rangka pembekalan para dubes yang akan berangkat ke berbagai negara pada Februari dan Maret nanti.

Roadshow para dubes tersebut merupakan bagian dari program utama Presiden Jokowi untuk meningkatkan perekonomian Indonesia, terutama sektor ekspor. "Kemenlu akan memberikan fasilitas untuk para pengusaha agar perdagangan antara Indonesia dengan berbagai negara bisa meningkat," ujarnya di sela-sela Dialog 23 Duta Besar dan Konsul RI dengan Forkas Jatim di Juanda, Senin (28/1).

Saat ini, pihaknya sudah memiliki sistem Smart Embassy yang tersedia di setiap Kedutaan Besar RI (KBRI) yang tersebar di berbagai negara. Smart Embassy tersebut berisi berbagai data tentang RI, termasuk data produk Indonesia, displai produk hingga detail perusahaannya.

"Jadi pasar yang ingin melakukan impor produk dari Indonesia, di KBRI mereka bisa mengakses Smart Embassy tersebut. Misalnya ingin beli emas dari Indonesia, siapa produsennya, konsumen akan langsung berhubungan dengan industri di Indonesia, dan itu harus kita verifikasi," jelasnya.

Rencananya, lanjut Mayerfas, Kemenlu akan memasukan data perusahaan dan kontak asosiasi pengusaha di Jatim ke dalam Smart Embassy yang tergolong baru dioperasikan pada tahun lalu tersebut.

Sampai saat ini sudah cukup banyak perusahaan ekspor yang masuk dalam data Smart Embassy. Kebanyakan adalah produsen mebel, tekstil, sepatu dan kaos kaki, dan produk unggulan makanan. "Komoditas ekspor pun lihat negaranya, misalnya ke Afrika, itu kebanyakan yang kita ekspor adalah produk makanan dan sabun cuci," imbuhnya.

Terkait soal kendala regulasi impor barang di sejumlah daerah yang kerap dianggap menghambat, kata Mayerfas, para dubes akan berupaya untuk terus menjalin kerja sama perdagangan dengan negara tersebut. "Kalau ada policy yang sulit, itu jadi tugas kita di perwakilan untuk mengurangi kendala-kendala. Itulah sebabnya, setiap dubes harus proaktif dan punya program masing-masing," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Forkas Jatim, Nur Cahyudi mengatakan, pengusaha Jatim menyambut gembira pertemuan para dubes dan konjen dengan asosiasi pengusaha lantaran mereka bisa langsung bertukar informasi dan kontak person. Termasuk langsung mempromosikan produknya kepada dubes. "Kami senang sekali bisa ketemu para dubes yang mengemban amanah untuk mempromosikan produk Jatim. Diharapkan langkah ini dapat meningkatkan ekspor Jatim," katanya. (cin)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia