Jumat, 24 May 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo
Kelenteng Tjong Hok Kiong Sambut Imlek

Selesai Direnovasi, Berharap Tak Ada Banjir saat Imlek

26 Januari 2019, 11: 32: 01 WIB | editor : Wijayanto

JELANG IMLEK: Patung dewa di kompleks Kelenteng Tjong Hok Kiong di Jalan Hang Tuah yang baru direnovasi.

JELANG IMLEK: Patung dewa di kompleks Kelenteng Tjong Hok Kiong di Jalan Hang Tuah yang baru direnovasi. (SATRIA NUGRAHA/RADAR SIDOARJO)

Tahun baru Imlek selalu jatuh pada musim hujan. Tahun ini jemaat Kelenteng Tjong Hok Kiong di Jalan Hang Tuah Sidoarjo berharap bisa bersembahyang dengan lebih nyaman. Sebab, kelenteng tua di tengah Kota Delta itu sudah direnovasi.

SATRIA NUGRAHA-Wartawan Radar Sidoarjo

Sejak dulu kawasan kelenteng selalu jadi langganan banjir. Maklum, lokasinya persis di pinggir Sungai Karanggayam. Tatik Mulyani, pengurus TITD Tjong Hok Kiong, berharap pada malam perayaan Imlek nanti tidak ada genangan air yang parah. "Tahun 2016 dan 2017 banjir pas perayaan Imlek. Harapan kami, tahun ini tidak kebanjiran lagi," ujar Tatik.

Malam tahun baru Imlek atau Sincia biasanya digelar sembahyang pas tengah malam. Sebelum sembahyang digelar, rencananya bakal ada pesta kembang api. “Tapi itu tambahan saja. Acara intinya ya sembahyang di malam pergantian tahun," ujar Tatik.

Persiapan menyambut perayaan tahun baru Imlek sudah mulai dilakukan. Semua patung di tempat ibadah itu mulai dibersihkan sejak pekan lalu. Tempat sembahyang dan beberapa sudut lokasi kelenteng juga sudah dirapikan.

Bangunan kelenteng yang baru ditinggikan sekitar satu meter. Harapannya, ketika banjir melanda tidak sampai mengganggu proses peribadatan di kelenteng.

Ketua Pengurus TITD Tjong Hok Kiong Arief Pujianto mengatakan, Kelenteng Tjong Hok Kiong dibangun pada 1863 oleh warga etnis Tionghoa yang bermukim di kawasan pecinan.

Awalnya kelenteng itu hanya berbentuk rumah kecil. Biasa digunakan sebagai tempat ibadah warga Tionghoa yang menganut kepercayaan Buddha, Tao, dan Khonghucu.

''Sampai sekarang masih belum jelas siapa yang mendirikan. Yang jelas, yang membuat kelenteng ini warga,'' katanya.

Selama 154 tahun berdiri, Kelenteng Tjong Hok Kiong ternyata tidak sering mengalami renovasi besar. Dalam catatan Arief, hanya ada tiga kali renovasi. Kini kelenteng yang berbentuk rumah biasa itu sudah berubah menjadi tempat ibadah yang cukup megah. Saat ini renovasi kali keempat.

Tjong Hok Kiong memiliki arti kelenteng atau tempat peribadatan yang membawa rezeki. Nama kelenteng tersebut sama dengan nama salah satu tempat di sisi selatan Tiongkok yang berdekatan dengan pantai atau laut. ''Kelenteng ini dulu di depannya adalah sungai besar,'' katanya.

Kelenteng Tjong Hok Kiong memang menjadi saksi arus kedatangan warga etnis Tionghoa ke Sidoarjo. Warga Tionghoa yang merantau ke Sidoarjo itu pun mulai melebur dengan pribumi.

Itu terlihat pada saat perayaan hari ulang tahun Mak Co (Dewi Laut) yang dipercaya menjadi penyelamat orang-orang Tionghoa yang merantau di luar kota maupun negara.

Ribuan warga, baik pribumi maupun Tionghoa, membaur untuk menikmati perayaan tersebut di kelenteng. ''Bisa sampai 2.000-an (orang yang datang, Red). Kami selalu membuka pintu,'' ujarnya.

Kini bukan hanya warga Tionghoa dari Sidoarjo yang beribadat di kelenteng tersebut. Banyak juga yang berasal dari luar kota. Bahkan, bangunan kelenteng yang memiliki nilai sejarah tinggi itu menjadi salah satu alternatif destinasi wisata.

''Kelenteng ini dibuka untuk umum. Banyak juga orang yang datang ke sini untuk melihat-lihat desain arsitektur kelenteng,'' jelas Arief. (sat/rek)

(sb/sat/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia