Sabtu, 25 May 2019
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo

Banjir Kian Meluas, Sulit Surut karena Air Pasang

22 Januari 2019, 17: 30: 08 WIB | editor : Wijayanto

LANGGANAN: Ruas Jalan Kutuk Barat, Kelurahan Sidokare, terendam setelah hujan deras, Senin (21/1) siang.

LANGGANAN: Ruas Jalan Kutuk Barat, Kelurahan Sidokare, terendam setelah hujan deras, Senin (21/1) siang. (SATRIA NUGRAHA/RADAR SIDOARJO)

SIDOARJO - Hujan deras dan merata yang terjadi pada Minggu (20/1) sore dan Senin (21/1) siang membuat berapa kawasan di Kota Delta terendam banjir. Air menggenang di kawasan permukiman hingga jalan raya.

Dari pantauan Radar Sidoarjo, titik banjir di Sidoarjo di awal tahun ini menyebar di sejumlah kecamatan. Di kawasan kota berada di Sidokare dan Jalan Raya Janti depan Lippo Mall Jalan, Pahlawan.     Di kawasan Gedangan, genangan air salah satunya di Dusun Demeling, Desa Gedangan. Air masuk hingga permukiman warga setinggi 50 sentimeter. Ketinggian air bahkan mencapai satu meter saat hujan deras pada malam hari.

Aktivitas warga pun sempat terganggu karena genangan air yang masuk ke dalam rumah. Banjir melanda tiga RT, yakni RT 1, 2, 3 di wilayah RW 4. “Banjirnya parah, susah surut. Apalagi saat hujan deras,” keluh Agus, salah satu warga Gedangan.

Kawasan Sedati juga terkena imbas. Salah satunya Jalan Raya Juanda yang terkena genangan air hingga 60 sentimeter. Tingginya air tersebut membuat sejumlah motor yang nekat melintas mogok.

Polisi pun harus turun ke jalan mengatur akses jalan ke Bandara Internasional Juanda. Kondisi itu membuat jalan dari arah timur ke barat maupun sebaliknya sempat macet hingga Senin siang.

Sedangkan di kawasan Tropodo, Kecamatan Waru, yang juga langganan banjir masih mengalami hal serupa. Sama halnya di Kupang, Kecamatan Jabon, yang diperkirakan dapat kiriman air dari luapan sungai di kawasan tersebut.

Bupati Sidoarjo Saiful Ilah sudah memerintahkan dinas terkait untuk mengantipasi genangan air yang terjadi di sejumlah kawasan. Namun, bupati yang akrab disapa Abah Ipul ini juga berharap air pasang laut tidak mempengaruhi banjir di Kabupaten Sidoarjo. “Jika air pasang, maka air sungai akan meluap itu juga akan berdampak pada banjir,” ujarnya.

Bupati dua periode ini menegaskan, pompa air yang dimiliki oleh OPD diharapkan bisa diletakkan pada titik-titik strategis. Diharapkan bisa mengurangi genangan air untuk dialirkan ke sungai. “Misalnya, di Jalan Raya Juanda sudah kita tempatkan pompa air dengan skala penyedotan yang besar,” katanya.

Menurut dia, solusi jangka pendek dilakukan dengan pompa air. Kawasan warga yang kebanjiran harus diperhatikan secara berkala. “Pompa air harus bekerja dan dipantau terus,” ucapnya.

Untuk solusi jangka panjang, Abah ipul menambahkan, normalisasi harus dilakukan di sungai-sungai yang berada di Sidoarjo. Pengendapan sungai harus diatasi dengan normalisasi yang tepat.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sidoarjo Dwijo Prawito sudah menempatkan sejumlah staf BPBD untuk memantau kondisi banjir. Laporan tersebut akan ditindaklanjuti dengan menurunkan personel. “Kondisi masih terpantau aman. Warga yang kebanjiran terus kita monitor,” katanya.

BANJIR ROB

Sementara itu, Kepala Bakorwil 3 Provinsi Jawa Timur Benny Sampirwanto mengatakan, banjir yang menggenangi sejumlah lokasi di Kabupaten Sidoarjo sejak Minggu (20/1) sore karena Sidoarjo belum memiliki fasilitas untuk menangani banjir.

"Sidoarjo ini berbeda dengan Surabaya. Kalau Surabaya sudah terkelola dengan baik, begitu daerah banjir bisa teratasi dengan adanya pompa air. Sedangkan kondisi wilayah Sidoarjo yang sangat luas masih belum memiliki fasilitas untuk menangani banjir seperti pompa air," kata Benny.

Selain itu, menurut Benny, banjir yang menggenangi Sidoarjo sejak Minggu lalu adalah banjir rob atau pasang air laut. Air tidak bisa ke laut sehingga terhenti di beberapa lokasi dan menggenang. Genangan banjir rob itu tidak hanya terjadi di Sidoarjo, tapi juga di Jombang dan Pasuruan.

"Saya akan audiensi dengan Bupati Sidoarjo karena memang masalah banjir ini membutuhkan dana yang besar. Kalau Surabaya APBD-nya besar. Nanti juga saya akan temui bupati untuk identifikasi masalah di daerah," ujarnya.

Jika di daerah tidak memiliki dana yang cukup, menurut Benny, permasalahan akan segera dilaporkan ke Gubernur Jatim. "Tentunya nanti akan diberikan alternatif seperti menyurati pemerintah pusat untuk mendapatkan solusi seperti apa. Yang penting, intinya duduk bersama dulu untuk mengetahui kemampuan kabupaten/kota dan provinsi itu bagaimana," tegasnya. (vga/rek)

(sb/vga/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia