Minggu, 22 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Gresik
Workshop Pengelolaan Sampah di Desa Brangkal

Gandeng Asbag Manfaatkan Koran jadi Vas Bunga

19 Januari 2019, 16: 10: 52 WIB | editor : Wijayanto

SERIUS: Wakil Asbag Gresik, Indah Wahyuni bersama warga Brangkal sedang berlatih membuat vas dari bahan koran bekas.

SERIUS: Wakil Asbag Gresik, Indah Wahyuni bersama warga Brangkal sedang berlatih membuat vas dari bahan koran bekas. (UMY HANY AKASA/RADAR GRESIK)

Share this      

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bekerjasama dengan Asosiasi Bank Sampah Gresik (ASBAG) melakukan pembinaan dan pendampingan di Kecamatan Balongpanggang. Bertempat di Desa Brangkal, DLH dan Asbag melatih para wanita memanfatkan bekas sampah yang banyak dibuang begitu saja oleh masyarakat.

Hany Akasah-Wartawan Radar Gresik

Salah satu sampah yang sering banyak ditemukan yakni koran bekas. Sebanyak 30 perempuan di  desa Brangkal ikut dalam workshop pengelolaan sampah di Kantor Desa Brangkal, kemarin.

Kasi Bank Sampah DLH Bagus Ahmad Sihabu Milah mengatakan saat ini Gresik sudah memaksimal sebaik mungkin bank sampah.

Pengelolaan sampah merupakan salah satu solusi untuk menangani masalah sampah. Fungsi kegiatan pengelolaan itu sebagai upaya kebersihan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

“Sampah itu bukan hanya buangan saja. Tapi ada beberapa yang bernilai ekonomis seperti rosok,” jelasnya. Sampah bisa dipilah, diolah lalu dijual dan menghasilkan rupiah.

“Kadang orang berpikir sampah itu uangnya tidak seberapa. Tapi, dengan pemanfaatan ini setidak nya bisa membantu ekonomi keluarga,” ungkapnya. Yang lebih penting lagi, dapat mengurangi jumlah sampah di daerah Gresik. Pemanfaatan yang paling mudah dan bisa dilakukan yakni dengan vas bunga koran bekas.

Wakil Ketua Asbag, Indah Wahyuni mengatakan untuk membuat vas dibutuhkan beberapa lembar koran. Mulanya, koran satu lembar dilipat jadi dua dipotong lalu dilipat dan dipotong lg. “Kira-kira ukuran lebar 10 panjang 30 cm,” jelasnya.

Kemudian, koran itu dilinting mulai dari ujung dengan sapu lidi sebagai cetakan. Lalu, dianyam tumpang tindih seperti nganyam biasanya dan dilabur lem kayu dan air. Terakhir dijempuat sampai kering baru dipernis atau diplitur.

“Dispet juga boleh,” ungkapnya. Dengan sistem itu, bahan vas bisa awet sampai bertahun tahun dan ditaruh di meja sehingga tampilan ruangan menawan. (*)

(sb/han/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia