Selasa, 19 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Isu Plastik Bisa Hambat Investasi

11 Januari 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

JADI PERTIMBANGAN: Dua orang pengunjung mal usai berbelanja di sebuah deparment store. Inaplas berharap agar pemerintah bijak membuat kebijakan, terut

JADI PERTIMBANGAN: Dua orang pengunjung mal usai berbelanja di sebuah deparment store. Inaplas berharap agar pemerintah bijak membuat kebijakan, terutama berkaitan dengan pengenaan cukai plastik karena dapat menghambat masuknya investor. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menilai banyaknya isu plastik yang beredar saat ini berpotensi menghambat datangnya investasi ke Indonesia. Padahal, investasi tersebut diharapkan dapat membantu pembangunan industri hulu untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku.

Wakil Ketua Umum Inaplas Budi Susanto Sadiman mengatakan, sejauh ini sekitar 95 persen bahan baku hulu plastik atau yang biasa disebut monomer (nafta, ethylene, dan propylene) masih impor. Karena memang sampai sekarang pabrik di Indonesia yang mampu memproduksi bahan baku tersebut tidak banyak. Sekitar tiga atau empat saja. "Nah, gara-gara maraknya isu plastik seperti pengenaan cukai plastik sampai larangan penggunaan plastic, membuat rencana investasi satu proyek industri hulu senilai USD 10 miliar terganggu. Mereka jadi ragu investasi ke sini," jelasnya di Surabaya, Kamis (10/1).

Padahal menurut Budi, jika investasi tersebut bisa segera direalisasikan dapat menekan ketergantungan impor bahan baku serta meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). Sehingga devisa negara tidak berkurang. "Selain itu, dampak lain dari isu-isu yang tidak rasional ini membuat pendapatan di industri plastik mengalami penurunan sekitar 15 persen. Kami harap pemerintah bisa lebih bijak lagi dalam membuat keputusan, karena bisnis kami ini juga ikut berkontribusi menopang perekonomian," tuturnya.

Ia menegaskan, pihaknya sangat menolak kebijakan cukai plastik. Sebab menurut Budi, hal itu dinilai tidak bisa membuat penerimaan negara meningkat signifikan. Tetapi malah berdampak negatif pada potensi pemasukan di sektor pajak. Sebab plastik banyak digunakan oleh pelaku UKM. "Pemberlakukan cukai plastik bisa dikatakan bukan merupakan win win solution, tetapi malah self destruction," terangnya

Sementara itu, Inaplas tetap berharap permintaan plastik tahun ini masih bisa tumbuh positif sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Budi memprediksi konsumsi plastik sampai akhir tahun 2019 bisa mencapai 6 juta ton. Tahun lalu sekitar 5,6 juta ton. "Meskipun banyak kendala tapi kami masih optimistis bisa growth karena ditopang oleh industri makanan minuman yang menggunakan kemasan plastik. Kontribusinya 40 persen," ujarnya. (cin/nur)

(sb/cin/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia