Jumat, 20 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Persona Surabaya
AKP Agus Widodo MH, Kasatreskoba Polres Perak

Satu Teladan Lebih Baik Ketimbang Seribu Nasihat

10 Januari 2019, 16: 16: 04 WIB | editor : Wijayanto

BERDAKWAH: Kasatreskoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak AKP Agus Widodo (baju koko putih) saat bertemu jamaah di sela-sela pengambilan gambar salah sat

BERDAKWAH: Kasatreskoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak AKP Agus Widodo (baju koko putih) saat bertemu jamaah di sela-sela pengambilan gambar salah satu televisi. (ISTIMEWA)

Share this      

Duniawi dan akhirat harus berjalan beriringan. Tidak melupakan kewajiban sebagai umat Islam, namun juga tidak mengabaikan kewajiban sebagai salah satu pejabat di Polres Pelabuhan Tanjung Perak. Bahkan tak jarang ia tetap mengaji dan membaca ayat suci Alquran ketika menjalankan tugasnya sebagai abdi negara.

Ini yang dilakukan Kasatreskoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak AKP Agus Widodo, S.H., M.H. atau biasa mendapat sebutan sang Kiai Kampung di tempat tinggalnya, Kelurahan Geluran, Kecamatan Taman, Sidoarjo. Berikut petikan wawancara jurnalis Radar Surabaya  Guntur Irianto bersama polisi dengan tiga  balok di pundak itu.

Bagaimana Bapak memandang tugas menjadi Kasatreskoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak?

Saya menganggap tugas sebagai polisi dan memberantas narkoba juga salah satu bentuk ibadah yang saya lakukan. Dengan semakin banyak menangkap pelaku penyalahgunaan narkoba, secara tidak langsung menyelamatkan nyawa manusia. Tentunya juga dibarengi dengan ibadah yang sesungguhnya, seperti yang sudah dicontohkan Kanjeng Rosulullah Muhammad. Jabatan hanya titipan dan pada saatnya nanti akan diambil. Saya hanya menjalankan tugas dengan amanah dan sebaik-baiknya.

Bagaimana menyelaraskan antara ibadah dengan tugas?

Selain beribadah melalui tugas sebagai polisi memberantas narkoba, saya juga memiliki jamaah di rumah saya, di Kelurahan Geluran, Taman. Saya memiliki Jamaah Tawasulan yang rutin melakukan pengajian dan bersalawat untuk Nabiullah Muhammad. Ini tidak pernah terlambat saya lakukan. Selain sebagai kewajiban umat, namun juga menjadi rutinitas pengajian yang saya koordinir ini. Di mana pun, kapan pun selalu saya sempatkan membaca diba’ atau bersalawat sebagai wujud syukur ke Allah SWT.

Berarti saat bertugas juga menyempatkan bersalawat?

Di ruang kerja saya ada berbagai buku, namun selalu ada Alquran dan juga diba’ di meja. Ini selalu saya baca di saat senggang. Jika ada tugas kepolisian maka saya berhenti mengaji sebentar. Nanti, kalau sudah selesai saya kembali lagi membaca ayat-ayat suci Alquran lagi. Ini selalu saya lakukan untuk mengisi waktu senggang agar selalu ingat kepada Allah SWT.

Untuk jamaah sendiri, apakah sudah lama?

Jamaah Tawasulan yang saya pimpin ini sudah lama berdiri. Kami rutin melakukan pengajian dan bersalawat bersama di rumah. Bahkan, di lingkungan rumah, saya bukan dikenal sebagai Kasatreskoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak. Namun dikenal sebagai Kiai Kampung. Ini dikarenakan saya selalu mengajak masyarakat, terutama tetangga, untuk beribadah dan beramal. 

Kegiatan apa saja yang biasa dilakukan Jamaah Tawasulan ini?

Biasanya setiap Senin malam atau Sabtu selalu ada kegiatan, baik salawatan atau pengajian bersama dengan anak panti asuhan. Tentunya dengan mengundang anak panti asuhan, kami bisa beribadah sekaligus beramal. Semua hanya titipan. Itu yang selalu saya pegang. Tidak ada yang kekal, dan beramal sebagai suatu keharusan bagi saya. Ini yang coba saya tanamkan ke jamaah yang lain. Alhamdulillah sudah berjalan dengan baik.

Sebagai Kiai Kampung, apa saja yang Bapak lakukan?

Saya hanya ingin memberikan contoh yang baik saja. Saya juga beberapa kali, bahkan rutin mengisi acara Ramadan di salah satu televisi lokal di Jawa Timur. Saya memberikan tausiyah tujuh menit setiap bulan Ramadan. Alhamdulillah ini saya gunakan sebagai media untuk berbagi ilmu dan juga memberikan pengetahuan agama. Bagaimana pun juga, umat yang terbaik adalah yang berguna untuk orang lain. Ini yang saya pegang selama ini.

Apakah juga mengimplementasikan keseharian di rumah sebagai Kiai Kampung dan saat menjabat Kasatreskoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak?

 Tentunya, saya selalu mengimplementasikannya dalam pekerjaan. Itu yang membuat saya selalu jujur dan amanah dalam mengemban tugas sebagai polisi. Jika ada anggota yang salah, jarang sekali saya menasehatinya apalagi memarahinya. Saya berpedoman untuk memberikan contoh yang baik, agar ditiru oleh anggota saya. Bagi saya satu tauladan lebih berarti ketimbang seribu nasehat. Tauladan menjadi nasehat yang paling bagus. Selama ini, itu yang selalu saya terapkan saat bertugas. Ini juga yang menjaga hubungan saya dengan anggota tetap baik dan harmonis sampai sekarang.

Apa yang selalu Bapak pegang selama menjabat sebagai Kasatreskoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak?

Saya selalu tanamkan pada diri saya sendiri untuk berlaku jujur. Terutama saat mengemban amanah jabatan apa pun. Selalu takut untuk berbuat jelek atau berbohong. Karena berbohong seolah-olah hanya kita saja yang tahu. Padahal ada Allah yang Maha Tahu. Makanya, setiap langkah apa pun yang saya ambil, selalu  saya pikirkan baik-baik. Jalankan amanah dengan sebaik-baiknya maka nantinya hal baik akan selalu menyertai.

Saat pindah nanti apakah hal ini akan terus Bapak lakukan?

Tentu ini akan terus saya lakukan ke depan. Saya akan tetap selaraskan. Kehidupan beragama dan duniawi harus tetap seimbang. Tetap mengemban amanah jabatan, namun tidak lupa dengan ibadah. Sosok Kiai Kampung sudah melekat pada diri saya ini yang harus saya jaga. Ini juga menjadi amanah tersendiri untuk menjadi tauladan yang baik bagi jamaah dan juga masyarakat sekitar. (*/opi)

(sb/gun/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia