Senin, 25 Mar 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Ekspor Turun, Permintaan Kopi Dalam Negeri Naik

10 Januari 2019, 15: 51: 03 WIB | editor : Wijayanto

TERKENDALA CUACA: Sibuk, 37, petani kopi asal desa Kali Pucang, Kecamatan Tutur, Pasuruan, sedang memetik kopi di kebunnya.

TERKENDALA CUACA: Sibuk, 37, petani kopi asal desa Kali Pucang, Kecamatan Tutur, Pasuruan, sedang memetik kopi di kebunnya. (ABDULLAH MUNIR/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia Jawa Timur (AEKI Jatim) mengungkapkan kinerja ekspor kopi Jatim 2018 menurun 13 persen dibanding tahun sebelumnya. Turunnya ekspor kopi dipengaruhi merosotnya produksi dan meningkatnya permintaan pasar dalam negeri.

Ketua AEKI Jatim Ichwan Nursidik mengatakan, volume kopi selama 2018 sebesar 66.881 ton, turun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 76.497 ton. Ini juga berbanding lurus dengan nilai ekspor yang menurun dibanding tahun sebelumnya. "Tahun 2018 nilai ekspor mencatatkan USD 154.853, sedangkan 2017 sebesar USD 275.033," ujarnya di Surabaya, Rabu (9/1).

Menurunnya ekspor ini, lanjutnya, disebabkan oleh produksi kopi baik secara nasional maupun Provinsi Jatim yang merosot hingga 15-20 persen. Sementara permintaan kopi di pasar dalam negeri meningkat sepanjang tahun mencapai 8-10 persen. Sehingga kopi untuk memenuhi permintaan luar negeri turun. "Kami berharap 2019 produksi dan ekspor kopi bisa naik lagi. Paling tidak sama dengan tahun 2017," jelasnya.

Sementara, Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) Jatim Bambang Sriyono membenarkan ada penurunan produksi kopi. Kemarau panjang yang melanda Indonesia tahun lalu mempengaruhi produksi kopi. "Kami harap tahun ini cuaca lebih bersahabat," tuturnya.

Ia mencatat, untuk jenis Arabika pada 2018 turun menjadi 14.520 ton dari tahun sebelumnya sebanyak 16.502 ton. Kondisi tersebut juga terjadi pada robusta yang pada 2018 sebanyak 44.974 ton, turun dibanding 2017 yakni 51.107 ton. "Yang mempengaruhi penurunan produksi adalah cuaca yang memang tidak bersahabat sepanjang tahun lalu," katanya.

Meski produksi menurun yang berimbas melonjaknya harga kopi mencapai Rp 40 ribu per kilogram, namun Bambang menyebutkan ada peningkatan di pasar lokal. "Permintaan terus naik ada dikisaran 10 persen. Terlebih untuk kopi olahan," pungkasnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia