Sabtu, 07 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Terkendali, Inflasi Jatim Masih di Bawah Nasional

03 Januari 2019, 14: 47: 57 WIB | editor : Wijayanto

BERKONTRIBUSI: Petugas melakukan pengisian BBM di SPBU di Coco Jalan Dr Soetomo, Surabaya. Kenaikan harga BBM non subsidi menjadi salah satu pemicu in

BERKONTRIBUSI: Petugas melakukan pengisian BBM di SPBU di Coco Jalan Dr Soetomo, Surabaya. Kenaikan harga BBM non subsidi menjadi salah satu pemicu inflasi selama 2018. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Sampai dengan Desember 2018, Badan Pusat Statistik Jawa Timur (BPS Jatim) mencatat secara tahun kalender inflasi Jatim mencapai 2,86 persen. Inflasi tahun kalender ini lebih rendah dibandingkan dengan target pemerintah yang mematok inflasi sebesar 3 plus minus 1 persen, yang artinya paling tinggi 4 persen dan paling rendah 2 persen.

Sehingga menurut Kepala BPS Jatim Teguh Pramono, angka tersebut masih dapat diterima. “Angka tersebut kan masih di tengah-tengah ya, dan inflasi Jatim pun lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional sebesar 3,13 persen,” terangnya di Surabaya.

Adapun komoditas utama yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya inflasi sepanjang tahun 2018 di Jatim adalah bensin, daging ayam ras, kontrak rumah, rokok kretek filter, akademi/perguruan tinggi, emas perhiasan, tarif sekolah dasar, rokok kretek, beras, dan tarif sekolah menengah atas.

“Bensin memberikan sumbangan utama terjadinya inflasi sepanjang tahun 2018, karena adanya kenaikan BBM non subsidi beberapa kali sepanjang tahun 2018,” lanjutnya.

Kenaikan BBM non subsidi pertama kali pada tanggal 13 Januari 2018, selanjutnya pada tanggal 20 Januari 2018, tanggal 24 Februari 2018, 24 Maret 2018, 1 Juli 2018, dan 10 Oktober 2018. Sehingga total sudah enam kali BBM non subsidi sepanjang tahun 2018.

Sementara, berdasarkan pemantauan terhadap perubahan harga selama bulan Desember 2018 di 8 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) Jatim menunjukkan adanya kenaikan harga di sebagian besar komoditas yang dipantau. Hal ini mendorong terjadi kenaikan IHK sebesar 0,60 persen. “Apabila dilihat tren musiman setiap bulan Desember selama sepuluh tahun terakhir (2009-2018), seluruhnya terjadi inflasi,” terangnya.

Menurut Teguh, hal ini biasanya dipicu oleh naiknya beberapa harga kebutuhan pokok menjelang hari Natal dan tahun baru. “Sehingga bulan ini, inflasi tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 1,91 persen,” tuturnya.

Teguh memaparkan, komoditas utama yang mendorong terjadinya inflasi di bulan ini ialah telur ayam ras, tarif angkutan udara, dan daging ayam ras. “Pada bulan Desember, harga telur ayam ras dan daging ayam ras mengalami kenaikan disebabkan oleh meningkatnya permintaan menjelang pergantian tahun,” katanya.

Hal ini selalu berlangsung setiap akhir tahun, sehingga kenaikan harga kedua komoditas tersebut membuat telur ayam ras dan daging ayam ras menjadi komoditas utama pendorong inflasi bulan Desember. Selain itu, kenaikan tarif angkutan udara juga turut serta menjadi faktor pendorong inflasi, karena bulan Desember selalu menjadi peak season bagi dunia penerbangan.

“Hal ini dipicu oleh momen liburan anak sekolah dan perayaan Natal dan tahun baru. sehingga sangat wajar apabila tarif angkutan udara mengalami kenaikan yang sangat signifikan,” imbuhnya.

Selain tiga komoditas utama pendorong inflasi di atas, komoditas lain yang juga mendorong terjadinya inflasi bulan Desember ialah bawang merah, tarif kereta api, beras, ikan mujahir, wortel, melon, dan pisang.

Sedangkan komoditas lain yang menjadi penghambat inflasi ialah udang basah, apel, pir, daging ayam kampung, baju kaos berkerah, keramik, dan bandeng/bolu. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia