Selasa, 19 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Tak Betah Di-KDRT dan DIselingkuhi Petinju, Pilih Pisah

02 Januari 2019, 05: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Iluastrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Dipukul laki-laki biasa saja, sakitnya bukan main. Apalagi dipukul petinju profesional. Nasib kurang baik ini dialami Karin, 22. Sayangnya si petinju yang memukul adalah Donwori, suaminya sendiri.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Jauh sebelum libur Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 lalu, Karin mendatangi Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya. Pakaiannya seks. Sebuah tato bergambar kalajengking bertengger di leher kanannya. Mulutnya juga tak henti-hentinya menghembuskan asap rokok. Penampilan yang bisa disebut sedikit urakan itu, membuat Karin otomatis jadi bahan gunjingan orang lain di ruang tunggu PA yang panjang itu.

Meski tampangnya garang, Karin orangnya terbuka. Kepada Radar Surabaya, ia menceritakan alasannya menggugat cerai Donwori. Rupanya, ia adalah korban KDRT. Ya, meski sebenarnya, jika dilihat sekilas, ia lebih pantas jadi pihak yang melakukan KDRT. "Lihaten ini, tubuhku biru-biru, lebam kabeh kena pukul suami," curhatnya singkat meminta keyakinan Radar Surabaya.

Ia kemudian mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan. Namun entah mengapa, bagi Radar Surabaya, justru terasa menggelikan. Rupanya, Donwori, suami Karin adalah petinju. Artinya, Karin di-KDRT oleh seseorang yang profesional. Sungguh tak bisa dibayangkan bagaimana sakitnya.

Karin pun mulai menceritakan awal kisah pilu kehidupannya. Bisa dikatakan, Karin menikah dini. Awalnya, sang pacar, Donwori mengajaknya untuk berhubungan badan sebelum menikah. Karena tak mau kecolongan, akhirnya Karin pun minta dinikahi, meskipun masih siri.

"Aku gak goblok ya, gak mau lah berhubungan tanpa ikatan. Apalagi aku perempuan," ungkap Karin kemudian.

Singkat kata singkat cerita, menikahlah keduanya. Namun, keduanya masih tinggal terpisah dengan orang tua masing-masing. Keduanya baru tinggal serumah ketika Karin lulus SMA, beberapa bulan kemudian. Tepatnya setelah keduanya menggelar pernikahan secara resmi.

Di sini baru ketahuan sikap asli Donwori. Suami yang ia kenal penyabar, rupanya suka main pukul. Kena KDRT lah Karin tiap hari.

Setiap ada masalah, atau ketika kurang sreg dengan pelayanan Karin, Donwori selalu melempar bogem mentah ke istrinya.

Tak cukup di situ, bedebahnya Donwori ini tiada akhir. Selain anarkis, ia juga berani main perempuan. Sampai di sini, Karin sudah tidak bisa mengalah lagi. "Wes nafkah gak pernah ngasih, semaunya sendiri lagi," curhatnya lagi, mengeluh tiada henti.

Terungkap lagi satu fakta bahwa Donwori jauh dari kata idaman. Karin mengaku, sejak menikah, ia tak pernah diberi nafkah. Sedikit pun. Selama ini Karin hanya mengandalkan pemberian orang tuanya. Jangankan bekerja, Donwori orangnya terlalu posesif untuk mengizinkan Karin kembali mencari nafkah. Karin adalah pelayan di warung remang-remang.

Sampai di sini Radar Surabaya masih keheranan dengan berbagai pertanyaan, "Kok bisa" dan "Kok mau". Owalah.. Pelik sekali masalah rumah tanggamu, Mbak. Gara-gara perselingkuhan Donwori inilah, Karin akhirnya minta cerai. Ia sudah siap jadi single mama dari bayi berusia tujuh bulan. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia