Senin, 18 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Pakde Karwo Resmikan Tugu Parasamya Purnakarya Nugraha Rp 6,9 M

Karya Seniman I Nyoman Nuarta

30 Desember 2018, 08: 50: 59 WIB | editor : Wijayanto

SWA FOTO: Dua orang penari berswa foto dengan latar belakang Tugu Parasamya Purnakarya Nugraha, yang telah diresmikan oleh Gubernur Jatim, Soekarwo, d

SWA FOTO: Dua orang penari berswa foto dengan latar belakang Tugu Parasamya Purnakarya Nugraha, yang telah diresmikan oleh Gubernur Jatim, Soekarwo, di depan kantor Gubernur Jatim, Jumat malam (28/12). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Menjelang akhir tahun 2018 Gubernur Jawa Timur Soekarwo meresmikan Tugu Parasamya Purnakarya Nugraha di halaman Kantor Gubernur Jatim Jalan Pahlawan 110 Surabaya, Jumat (28/12) malam. Tugu ini dibangun sebagai penanda bahwa Jatim merupakan provinsi Parasamya Purnakarya Nugraha.

Pria yang akrab disapa Pakde Karwo ini mengaku cikal bakal dibuatkannya monumen ini atas usulan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo saat menyerahkan penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha tahun 2017. Menurutnya saat itu Mendagri berpesan agar prestasi meraih tiga kali penghargaan tersebut bisa dijadikan simbolik yang bisa dibaca dan dilihat. Karena itu, kami membuat tugu.

“Ini kan simbolik sebenarnya, kalau pidato masyarakat bisa lupa. Dengan tugu ini  masyarakat akan selalu ingat bahwa Jatim adalah provinsi Parasamya Purnakarya Nugraha,” katanya.

Menurutnya tugu ini simbol pencapaian Jawa Timur yang telah berhasil meraih Penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha sebanyak tiga kali atau paling banyak dibanding provinsi lainnya. Jawa Timur meraih penghargaan ini pada tahun 1974, 2014, dan 2017.

Pada 1974, lanjut Pakde Karwo, penghargaan Parasamya diserahkan oleh Presiden Soeharto kepada Gubernur HM Noer. Kemudian tahun 2014, penghargaan ini diserahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Pakde Karwo, sedangkan pada 2017, Pakde Karwo kembali menerima penghargaan ini dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI, Tjahjo Kumolo.

Ia menambahkan Kemendagri, menilai Provinsi Jatim mendapatkan nilai terbaik dari seluruh aspek yang dinilai. Menurutnya provinsi yang nilainya mendekati hanya Jawa Barat.  “Sebenarnya saya gak tega bilang terbaik tapi memang begitu penilaiannya,” ujar Pakde Karwo.

Pada tugu tersebut terdapat tulisan titik nol. Namun, Pakde Karwo menegaskan bukan titik nol sebuah kota atau wilayah. Melainkan titik awal Jatim sebagai provinsi Parasamya Purnakarya Nugraha.  Ide desain tugu menggabungkan konsep seniman yang menciptakan patung Garuda Wisnu Kencana I Nyoman Nuarta dengan Pemprov Jatim.

Hasilnya, ada perpaduan antara Karapan Sapi Madura, Reog dari Ponorogo, Tari Remo Surabaya dan Tari Gandrung Banyuwangi. “Ini adalah simbol-simbol puncak kebudayaan kita. Jangan dilupakan,” tuturnya. 

Kepala Biro Humas dan Protokoler Setdaprov Jatim, Aries Agung Paewai menceritakan tugu ini dibuat oleh I Nyoman Nuarta, seniman yang menciptakan patung Garuda Wisnu Kencana (lengkap selama tiga tahun berturut-turut. Jawa Timur meraih penghargaan ini pada Tahun 1974, 2014, dan 2017,” katanya.

Pada 1974, lanjut orang nomor satu di Jatim ini, penghargaan Parasamya diserahkan oleh Presiden Soeharto kepada Gubernur HM Noer. Pada 2014, penghargaan ini diserahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Pakde Karwo, sedangkan pada 2017, PakdeKarwo kembali menerima penghargaan ini dari Mendagri.

Kepala Biro Humas dan Protokoler Setdaprov Jatim, Aries Agung Paewai menceritakan tugu ini dibuat oleh I Nyoman Nuarta, seniman yang menciptakan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Ungasan, Jimbaran, Bali. Bahan yang digunakan sebagai tugu adalah tembaga agar tidak gampang berkarat. “Keseluruhan anggaran yang dibutuhkan untuk membuat tugu ini adalah Rp 6,9 miliar,” tuturnya.

Terpisah, Dalam sambutannya, seniman sekaligus penggarap Tugu Parasamya, I Nyoman Nuarta mengatakan, pihaknya bersyukur mampu menyelesaikan pembangunan tugu ini dalam waktu relatif singkat, yakni hanya 2,5 bulan. Tantangannya adalah menggabungkan karakter-karakter yang berbeda-beda dari berbagai daerah di Jatim.

“Seperti Karapan Sapi dari Madura, yang merupakan olahraga yang cepat, kemudian Tari Gandrung yang lemah lembut, dan Tari Barong yang masing-masing berbeda karakternya. Ini kita coba satukan untuk menjadi rangkaian komposisi yang bagus, memang tidak mudah, tapi syukurlah kami bisa menuntaskan karya seni ini dalam 2,5 bulan lebih cepat dari target awal yang 4-5 bulan,” pungkasnya. (mus/jay)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia