Selasa, 19 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Teater Tolong dan Cipoa, Gambarkan Kehidupan Buruh

29 Desember 2018, 07: 45: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

TEATER BURUH: Sejumlah mahasiswa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, memerankan teater berjudul "Cipoa" karya Putu Wijaya dalam pement

TEATER BURUH: Sejumlah mahasiswa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, memerankan teater berjudul "Cipoa" karya Putu Wijaya dalam pementasan dengan tema Buruh dan Perempuan di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, Kamis malam (27/12). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

Surabaya - Kreativitas mahasiswa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatika (STKW) Surabaya dibuktikan dengan mempersembahkan pagelaran dua karya seni teater yang berjudul Tolong dan Cipoa.

Pagelaran seni teater tersebut, mampu membius penonton yang berada di gedung Kesenian Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur. Pertunjukan teater ini sebagai wujud apresiasi atas sumbangsih karya seni teater garapan naskah Nano Riantiarno dan Putu Wijaya dengan tema buruh dan perempuan. 

Seni teater monolog yang berjudul Tolong disutradarai oleh Didik “Meong” Harmadi yang menjalankan skenario cerita tentang seorang tenaga kerja perempuan yang berprofesi sebagai buruh di luar negeri yang mengalami penyiksaan dan terjebak dalam sekapan majikannya. Ketika berada dalam sekapan, dia berharap suami dan keluarganya dapat menolong dirinya. Menurut Denny Tri Aryanti yang berperan sebagai Atikah dalam seni teater ini, dia mengatakan adanya teriakan atas penderitaan perempuan tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri yang nasib mereka tidak mendapat perhatian lebih dari pemerintah. 

“Saya mengambil banyak simbol dengan karung goni. Sehingga karung menjadi multitafsir,” ujarnya kepada Radar Surabaya, Kamis (27/12) malam.

Sementara seni teater yang berjudul Cipoa disutradarai oleh Roci Marciano. 16 aktor menampilkan aktivitas layaknya pekerja buruh dengan gerakan menyanyi dan menari. Cerita ini juga memiliki isyarat arti tentang nilai-nilai moral antara atasan dengan para pekerja buruh yang tidak adanya keadilan terhadap hak-hak asasi manusia. (ina/nur)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia