Selasa, 22 Jan 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Bisnis Travel Agent Mampu Tumbuh 30 Persen

28 Desember 2018, 18: 37: 18 WIB | editor : Wijayanto

DEMNAD NAIK: Pengunjung memadati pameran wisata dan biro perjalanan di salah satu mal di Surabaya beberapa waktu lalu.

DEMNAD NAIK: Pengunjung memadati pameran wisata dan biro perjalanan di salah satu mal di Surabaya beberapa waktu lalu. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Pariwisata Jawa Timur (Jatim) kini semakin dieksplor oleh pemerintah. Hal tersebut membuat pertumbuhan jumlah travel agent di sepanjang tahun 2018 melonjak cukup signifikan, yakni mencapai angka 30 persen.

Ketua Dewan Tata Krama Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Jatim Nanik Sutaningtyas menjelaskan, pertumbuhan tersebut dinilai sangat baik dibandingkan dengan tahun 2017. Adanya perkembangan pariwisata yang cukup baik dan didukung oleh agresifnya pemerintah yang terus membuka objek wisata alam baru dinilai menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan tersebut. Selain itu, menurutnya, seiring pergeseran tren liburan masyarakat yang kini lebih menyukai back to nature atau kembali ke alam juga turut menjadi pemicu pertumbuhan.

“Sehingga orang-orang saat ini lebih suka untuk traveling ke destinasi wisata alam baru dan menggunakan jasa travel agent untuk memandunya,” ujarnya di Surabaya, Kamis (27/12).

Nanik menjelaskan, di wilayah Jatim sendiri, objek wisata yang masih menjadi tujuan utama kunjungan masyarakat seperti kota Batu, Bromo, dan Banyuwangi akan semakin ramai kunjungan wisatawan dengan adanya objek wisata baru yang kini sedang naik daun, seperti Gili Labak, Gili Genting, Pantai 9 yang semuanya terletak di Madura.

“Yang membuat wisata Jatim lebih maju lagi adalah saat ini Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim telah membuka jalur pariwisata laut Probolinggo-Madura. Tentu itu ide itu sangat cemerlang, karena Bromo sudah menjadi primadona Jatim dan Madura memiliki potensi pariwisata besar, jadi dapat saling bersinergi,” terangnya.

Pihaknya menilai, program Dishub Jatim yang membuka jalur pariwisata itu perlu dijadikan percontohan untuk daerah lain. Sebab, menurutnya, apabila akses pariwisata seperti itu terus dibangun dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah. Hal ini dikarenakan bisnis pariwisata bersifat multiplier effect.

“Sebuah objek wisata bisa menguntungkan bagi banyak komponen. Seperti hotel, restoran, pedagang kaki lima, transportasi, sampai travel agent,” ungkapnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia