Selasa, 22 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

GAWAT! 5 Tahun Terakhir, Neraca Perdagangan Jatim Defisit

28 Desember 2018, 18: 34: 36 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

SURABAYA - Kinerja perdagangan luar negeri Jawa Timur (Jatim) terus memburuk selama lima tahun terakhir. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, hingga November 2018 mengalami minus USD 4.714,27 juta.

Hanya pada 2016 di Januari-November surplus USD 858,30 ribu. Sedangkan 2017 di periode yang sama posisi minus USD 2.223,15 juta. Begitu juga dengan 2015 di periode yang sama minus USD 1.887,04 juta. Paling parah dalam lima tahun terakhir adalah 2014, dimana neraca perdagangan minus USD 6.025,52 juta.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jawa Timur Satriyo Wibowo mengatakan, pada tahun ini neraca perdagangan ekspor dan impor memang mengalami penurunan tajam dibanding tahun-tahun sebelumnya. Meski masih lebih baik dibanding lima tahun lalu, tetapi masih lebih buruk. “Bulan ini saja kinerja ekspor kita berbeda dengan tahun sebelumnya yang mengalami kenaikan, sekarang ini turun,” ujarnya di Surabaya, Rabu (26/12).

Neraca perdagangan impor-ekspor Jawa Timur bulan November mengalami minus dari bulan sebelumnya, yakni sebesar USD 696,53 ribu. Satriyo menyebutkan, memburuknya neraca perdagangan luar negeri itu salah satunya disebabkan lesunya kondisi ekonomi global. “Semua permintaan pasar luar negeri untuk ekspor kita menurun, baik gas maupun non migas,” ungkapnya.

Diakui Satriyo, sebenarnya dari sektor migas dan non migas, yang paling berpengaruh terhadap neraca perdagangan luar negeri Jatim adalah perhiasan dan permata yang menjadi andalan. Namun, pada Oktober ke November mengalami penurunan cukup signifikan, mencapai 66,61 persen. Meski masih menempati penyumbang tertinggi ekspor dengan USD 142,2 juta, tapi jika terus menurun tentu mengkhawatirkan.

“Selain itu, perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok di satu sisi juga berdampak negatif, karena impor kita dari Tiongkok itu masuk ke sini (Jatim, Red) baru ke Amerika Serikat,” ungkap Satriyo.

Neraca perdagangan impor-ekspor Jatim menurutnya, harus lepas dari ketergantungan kepada Tiongkok. Paling tidak bisa menggantikan komoditi yang dihasilkan Tiongkok. “Eskpor barang Tiongkok itu kan lebih murah. Barang dari Tiongkok lari ke Amerika Serikat, kalau kita bisa menggantikan Tiongkok, bisa baik ekspor kita,” tandasnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia