Minggu, 23 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya
Modus Pembobolan Akun Media Sosial

Jangan Asal Klik, Terutama Website Berbau Porno

23 Desember 2018, 09: 26: 58 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi (NET)

Share this      

Kasus kejahatan di dunia maya belakangan semakin tinggi. Terutama terkait dengan tindak pidana penipuan atau pemerasan. Para pemilik media sosial (medsos) nampaknya wajib berhati-hati. 

MAHRUS/CINTIA/ISMA-Wartawan Radar Surabaya 

Dua pekan lalu insiden tak mengenakkan dialami beberapa jurnalis Surabaya. Bagaimana tidak, handphonenya sempat menjadi sasaran peretasan oleh hacker. Parahnya, hacker ini mengambilalih akun aplikasi WhatsApp (WA) lalu menggunakannya untuk penipuan. 

Salah satu korban itu sebut saja namanya Didit. Si hacker meminta nomor handphone Didit dan melakukan penipuan menggunakan akun WA milik pria asli Kediri itu.

Seperti diketahui, WA merupakan aplikasi chatting yang populer dan diunduh lebih dari 1 miliar pengguna di Google Play Store. Seperti semua aplikasi pada umumnya, WA juga tak lepas dari berbagai masalah keamanan penggunanya, sehingga pemilik smartphone berbasis Android harus berhati-hari dengan handset-nya. 

Didit menceritakan kronologi akun WA-nya yang sempat diambilalih oleh orang lain. Sebelumnya, ia mempunyai seorang teman yang biasa berkomunikasi dengannya melalui aplikasi messenger yang terhubung dengan akun Facebook. Setelah berkomunikasi lumayan sering, temannya meminta nomor WA. Tanpa curiga pria yang selalu dandan rapi ini pun memberikan nomor WA-nya. 

Setelah menerima nomer WA, temannya berdalih jika nomor miliknya merupakan nomor luar negeri sehingga membutuhkan kode verifikasi untuk temannya dapat menyimpan nomor Didit . Kode verifikiasi ini dikirim ke nomor WA milik Didit. Tanpa curiga, Didot memberikan 6 digit nomor kode verifikasi yang saat itu juga diterimanya melalui short message service (SMS). "Saat itu kejadiannya malam, WhatsApp saya masih bisa saya gunakan seperti biasa. Baru keesokan harinya, sekitar pukul 09.00 WIB saya sudah tidak bisa mengakses WhatsApp di handphone saya lagi," terangnya.

Akun WA milik Didit diambilalih kurang lebih selama 12 jam lamanya. Selama itu, hacker beraksi dengan menghubungi keluarga, kerabat, dan teman-teman Didit yang ada di dalam kontak WA. "Rata-rata mereka dimintai uang oleh hacker ini. Yang paling banyak dihubungi keluarga ya, karena ada grup keluarga dan hubungan psikologis keluarga juga. Kan pasti khawatir jika terjadi apa-apa pada saya," lanjutnya. 

Terdapat kurang lebih 20 orang yang dihubungi oleh hacker. Modusnya dengan mengatasnamakan Didit untuk meminjam uang rata-rata dengan nominal Rp 7.000.000. "Nah, karena banyak yang sudah curiga karena bahasanya beda dengan bahasa saya, salah satunya keponakan saya, ia mencoba meladeni si hacker. Keponakan saya bilang tidak ada uang senilai itu, ia bilang kalau hanya ada uang senilai Rp 2.000.000 saja. Dan si hacker ini mengiyakan nominal tersebut," ujarnya.

Semua kontak yang dihubungi oleh hacker memang untuk dimintai uang. Uang tersebut diminta untuk dikirim ke nomor rekening si hacker. Menurut pengakuan Didit, ia sempat mengetahui nomor rekening tersebut, yang berasal dari salah satu bank dalam negeri dan atas nama laki-laki dan perempuan.

Meski demikian, Didit bersyukur tidak ada korban dalam kasus penipuan yang mengatasnamakan dirinya. Ia menunggu selama 12 jam dimana akun WhatsApp miliknya diambilalih oleh hacker untuk mendapatkan kembali kode verifikasi baru untuk dapat mengakses kembali WhatsAppnya. "Memang petunjuk di aplikasi saya baru bisa mendapatkan kode akses yang baru setelah 12 jam," jelasnya. Sementara itu, akun messanger si hacker sudah tidak bisa ditemukan lagi. "Sepertinya akunnya sudah di hapus," katanya. 

Nah, bagi Anda yang merasa ada yang tidak beres dengan ponsel Android Anda, tidak ada salahnya untuk melakukan cek ulang. Agar Anda mengetahui apakah ponsel Anda dalam kondisi aman dari gangguan para hacker.

Setiap aplikasi yang menggunakan internet pasti akan terekam di Data Usage. Fitur yang dimiliki oleh Android ini jelas sangat membantu untuk mencari aplikasi di luar kewajaran yang menggunakan akses internet secara masif.

Kasubdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Harissandi mengatakan, selama tahun 2018 terdapat 107 kasus. "Ada laporan sekitar 107 kasus terkait penipuan online," ujar Harissandi, Sabtu (22/12). 

Dia menjelaskan, rata-rata pelaku melakukan penipuan itu melalui media sosial (medsos). Mulai Facebook, Instagram, WhatsApp, dan email. Jika ada pembobolan WA, menurut Harissandi, itu bermula dari kesalahan pribadi dan aplikasi. Salah satu penyebabnya adalah saat membuka website berbau porno, kemudian muncul penawaran produk murah lalu diklik oleh pengguna.

Maka, dengan tidak langsung kadang terdapat permintaan memasukkan nomor handphone, atau nama ibu dan lainnya. Selain website berbau seks, biasanya untuk kasus pembobolan medsos dan WA terjadi karena pengguna sering mengklik promo-promo dan penawaran jual beli online murah.  "Jika ada muncul penawaran-penawaran memasukkan kode, seperti nomor HP atau password, jangan sekali-kali memberikan password dan nomor telepon. Jangan asal klik," tegasnya. 

Jika sudah terlanjur memberikan nomor telepon atau password, kata Harissandi, kemungkinan besar bisa jadi hal tersebut digunakan pelaku kejahatan untuk melakukan kejahatan. Seperti menghadang email, dan membobol medsos yang dipakai pengguna. Sebab, verifikasi menggunakan nomor HP tersebut. 

Dikatakan Harissandi sejauh ini, rata-rata kerugian akibat kejahatan penipuan online yang dilaporkan di Polda Jatim kerugiannya di atas Rp 10 juta. "Untuk WA tidak banyak, tapi ada, belum direkap, sementara untuk kasus paling besar kerugian korban itu pada kasus jual beli online melalui penghadangan email," jelasnya. 

Maksud penghadangan email di sini, seperti yang dialami salah satu korban asal pengusaha di Jawa Timur. Gara-gara email diganti pembobol hanya dalam satu kata, korban menjadi kehilangan uang sekitar Rp 1, 5 milliar. "Ada kemarin laporan orang membeli onderdil pesawat, sudah mentransfer, ternyata yang ditransfer bukan nomor rekening perusahaan yang asli. Akan tetapi nomor rekening pelaku kejahatan," jelasnya.

Terkait masih maraknya kasus penipuan online tersebut, perwira menengah dengan dua melati di pundak itu mengimbau, pengguna medsos lebih bijak dan hati-hati. Jangan mudah tertarik promo, maupun permintaan memasukkan kode verifikasi nomor HP dan password. (*/opi)

(sb/rus/cin/is/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia