Jumat, 06 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Bojo Ruwet, Dianggap Pembantu Minta Cerai, Disuruh Kerja Nggak Mau

21 Desember 2018, 05: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Bagaimana pun keadaannya, suami harus bekerja. Alasannya jelas, agar anak istri sejahtera. Selain itu, untuk meminimalisir pertengkaran rumah tangga. Seperti Donwori, 43, ini. Gara-gara 24 jam non stop bareng istri, pengangguran lagi, ia jadi pembantu di rumahnya sendiri. 
Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya
Donwori ini tampilannya saja yang garang, hatinya lemah seperti puteri. Gara-gara tak kuat diperlakukan semena-mena oleh istrinya sendiri, ia mengajak Karin, 28, bercerai. Ketika berada di kantor pengacara dekat Pengadilan Agama (PA)  Klas 1A Surabaya, ia menumpahkan uneg-unegnya.Cerita penderitaan Donwori bermula dua tahun lalu. Saat itu, baik Karin maupun Donwori sudah berstatus janda dan duda. Karin janda beranak satu, sementara Donwori duda beranak tiga. Untungnya, ia sadar diri. Tak mau membebani keluarga Karin, ia tak memboyong ketiga anaknya tinggal bersama.Kepada Karin, awalnya ia memperkenalkan diri sebagai perawat di salah satu rumah sakit. Dan memang begitulah adanya. Tak hanya itu, di malam hari, ia masih nyambi jadi pe jaga toko. Donwori menduga, Karin menerimanya dulu karena silau dengan pekerjaan Donwori. Naas, baru juga  empat bulan menikah, kontraknya habis. Makin sedih karena kontrak itu tidak diperpanjang oleh perusahaan.
Dari sinilah cerita pilu Donwori dimulai. Gara-gara tak lagi bekerja di kantor, Donwori menganggur lama. Ia pun alih profesi menjadi asisten istrinya berjualan di warung. Dan sejak itu pula, Donwori merasa diinjak-injak istri. "Aku nggumun karo wong wedok, opo kabeh ngamukan yo? Mantan bojoku ngamukan, iki (Karin, Red) yo ngono," keluh Donwori penuh penjiwaan.Ia menjelaskan, temperamen istrinya memang sangat tinggi. Sakinh temperamennya, tiada satu jam terlewat tanpa omelan-omelan Karin. Padahal sebenarnya juga dipicu hal remeh-temeh. Usaha Karin memang cukup ramai. Semenjak dibantu Donwori, keduanya bagi tugas. Karin yang mengurusi bagian per-es-an, sementara Donwori meladeni pelanggan yang membeli nasi. Donwori pun tak kuasa untuk tidak menggambarkan betapa tersiksanya selama ini."Umpomo yo Mbak, onok sing tuku, duwite gede, bojoku ngamuk-ngamuk, sing diseneni aku. Onok sing takon panganan iki jenenge opo, aku gak ngerti kabeh seh, tak takokno ibuk (Karin, Red) aku diamuk. Maneh, aku bungkus nasi, bentuke gak pener, aku diamuk," cerita Donwori menumpahkan penderitaannya selama ini.Belum puas, Donwori sambat lagi. " Umpomo, aku nganggur, bojoku ketok repot gawe es, tak ewangi motong buahe, aku diamuk. Jare tanganku kotor. Aku ngewangi ngadahi es batu, diamuk maneh. Jare garai rusuh. Pas tak pel, diamuk maneh. Jare tambah ngratakne reget. Pokoke salah tok," lanjut Donwori.Sikap temperamen istrinya ini, sebenarnya sudah ia tahan lama. Hanya saja tak perah Donwori sampaikan gara-gara masih cinta. Lagi pula, anaknya bersama Karin masih bayi. Ia eman juga mau ninggal. Ya meskipun sebenarnya, kalau dipikir-pikir, kehadiran Donwori tak membantu banyak. "Aku iki ibarat pegawaine, tapi gak dibayar, diseneni terus. Hasil jualan sing pegang ya dia," keluh Donwori. 
Sempat, Radar Surabaya bertanya, kalau memang sudah tak tahan diperlakukan begitu, kenapa tidak keluar cari kerjaan baru. Namun jawaban pesimistis dilontarkan Donwori. "Angel Mbak golek kerjo, enak nek omah ngewangi bojo," pungkas pria asal Kenjeran ini. Lhoala, ancen sampeyan sing ruwet, Cak!  (*/opi) 

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia