Selasa, 19 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Malam Pertama Emoh Disentuh, Siangnya Langsung Ditalak

19 Desember 2018, 04: 10: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Orang Indonesia memang punya budaya sungkanan. Dalam beberapa hal, sikap ini baik. Tapi seringkali, sungkanan malah membuat sesuatu tambah runyam. Seperti yang terjadi pada Karin, 28.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Gara-gara sungkan mau nolak, status perawan yang Karin jaga selama puluhan tahun, hilang dalam sehari. Langsung berganti dengan status janda kembang.

Ceritanya bermula beberapa hari yang lalu. Dengan sangat terpaksa, Karin ditawari menikah dengan Donwori, 30, pria yang dipilihkan orangtuanya. Sayangnya sejak perkenalan pertama, Karin merasa tidak sreg dengan Donwori. Katanya, tak satu pun tentang calon suaminya itu yang memikat hatinya.

Memang tawaran itu sempat ia tolak. Berkali-kali. Namun rupanya, orang tua Karin sudah sangat ngebet memiliki mantu dan cucu. Sudah diengkel puluhan kali pun, bapak ibu Karin lebih ngengkel. Alasannya, sedih melihat Karin yang masih saja perawan di antara teman sebayanya yang sudah punya banyak anak.

"Kupingku panas, Mbak, dibanding- bandingno terus. Malah kapan hari diilokno, deloken kancamu sing janda wae arep rabi maneh, kon sek dewean ae," katanya, menirukan ucapan ibunya.

Bahkan, oleh orang tuanya,  setiap hari Karin  selalu dibisiki kata-kata yang baik tentang Donwori. Tentang prestasinya dalam kerjaan, tentang kesehariannya, bagaimana sikap baiknya kepada orang tua.

Namun bagi Karin, namanya tak cinta ya tetap tak cinta. "Terus kok bisa akhirnya mau menikah Mbak?" tanya Radar Surabaya, ketika berbincang dengan Karin di kantor pengacara dekat Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya.

"Terpaksa, wong tuwoku mekso. Bahkan ngancem, aku durhaka kalau enggak mau dinikahkan," ujar Karin.

Tanpa persiapan yang lama, akhirnya, menikahlah keduanya. Namun benar kata seorang pengacara. Godaan orang yang akan menikah itu banyak sekali. Seperti kehadiran orang ketiga. Sayangnya, Karin ini termasuk yang tidak bisa tahan godaan.

Ia mengaku sebelum menikah dengan Donwori, ia dikontak lagi dengan mantan yang ngajak nikah. Bimbanglah Karin. Karena saat itu, segala persiapan sudah hampir selesai. Undangan telah disebar, pun dengan gedung, dekorasi dan katering. Semua sudah siap. Bahkan busana untuk bridesmaid juga sudah siap.

Eh tunggu-tunggu, katanya emoh nikah, tapi kok sampai cemepak se-bridesmaid segala. Hanya Tuhan dan Karin yang tahu. "Ya kalau tiba-tiba tak batalkan, ya malu sama orang-orang. Mbak. Ya wes tak terusno wae," urai Karin.

Dan akhirnya, hari H pun tiba. Karin pun menikah dengan Donwori. Namun setelah sah, tepat di malam pertama, Karin bikin ulah. Ia emoh disentuh suaminya. Alhasil, Donwori yang tak terima menalaknya saat itu juga.

Tentu saja, diiringi dengan drama dan lontaran sumpah serapah kepada Karin. "Tapi aku malah seneng Mbak. Kan akhirnya gak susah-susah bikin perkara. Dia nalak duluan," katanya, sesantai itu.

Disalahkan pun, Karin tak mau. Ia bersikukuh bahwa itu semua salah Donwori sendiri. Dan, salah orang tuanya yang tetap memaksa meski dirinya sudah tidak mau. "Memang Mbak Karin mau menikah dengan mantan Mbak juga?" tanya Radar Surabaya, yang lagi-lagi dijawab enteng, "Belum tahu, sih. Nanti kalau cocok ya nikah, kalau enggak ya tidak."

Eh, rupanya Karin dan sang mantan itu memang belum pernah jadian. Jadinya, Karin sendiri yang memang ke-geer-an kalau dirinya sudah laku.

Meski perbuatan Karin meresahkan, setidaknya untuk orang tuanya dan orang yang melihat, toh Karin enjoy saja mengurus cerai. Tak ada beban sama sekali . Apakah Karin punya penyesalan pada pergantian status dari perawan ke janda dalam sekejap, juga tak ada yang tahu.

Padahal, kalau kata pengacara, laki-laki akan lebih memilih calon istri yang perawan daripada janda. Apalagi tak ada yang tahu apakah Karin benar-benar belum disentuh suaminya atau sudah belah duren. Tahunya ya cuma status di akta cerai kalau dirinya sudah janda. Itu saja. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia