Sabtu, 16 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Tahu Suami Gay setelah 13 Tahun Menikah

17 Desember 2018, 04: 42: 48 WIB | editor : Wijayanto

Iluastrasi Iso Ae

Iluastrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Kini terjawab sudah alasan Donwori, 36, menamai anaknya dengan nama-nama flamboyan. Ternyata, selama ini, Donwori adalah gay yang bersembunyi di balik tampang garang dan cerdasnya. 

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Usia pernikahan Karin sudah lebih dari tiga belas tahun, ketika ia mendaftarkan perceraiannya di Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya. Rumah tangga yang terjalin cukup lama ini hancur, ketika Karin mengetahui sebuah fakta bahwa suaminya seorang gay.

Status gay suaminya ini ketahuan ketika Donwori tepergok menyelundupkan laki-laki ke dalam kamarnya. Bahkan, dengan matanya sendiri, Karin mengetahui apa yang dilakukan kedua pria dewasa itu.

"Menjijikkan! Kok bisa-bisanya!  Dosa apa aku sampai punya suami seperti itu, Mbak," curhat Karin penuh drama. Eh bukan, maksudnya dengan muka sedih.

Rupanya, Karin ini tegas juga. Setelah memergoki suaminya ada main dengan laki-laki, Karin mengajak Donwori untuk periksa. Ia takut kalau-kalau suaminya terkena HIV/AIDS. Terlebih, Karin juga takut kalau-kalau ia kecolongan dan ikut tertular. Dari situ, ketahuan bahwa Donwori sudah positif HIV. Untungnya penyakit mematikan itu belum sampai menular ke tubuh Karin.

Meski sudah tahu status dan kelainan suaminya, rupanya Karin ini belum rela untuk bercerai. Akhirnya, selama enam bulan, ia bertahan hidup dengan Donwori. Namun pada akhirnya, ia menyerah juga. Penyebabnya adalah karena tak tercukupi kebutuhan batinnya.

"Namanya juga istri, ya butuh itu (making love, Red). Tapi, sudah tahu dia gitu, aku ya emoh berhubungan sama dia. Jijik iya, takut ketularan iya, tapi akhire kesepian," papar Karin.

Kepada Radar Surabaya, Karin mengaku tak pernah mengetahui kalau suaminya seorang LGBT (lesbi gay biseksual transgender). 

Wong suaminya ini prejengannya juga meyakinkan. Kerjaannya juga sebagai guru yang notabene harus bisa digugu lan ditiru siswanya. Pembawaannya juga tenang, khas orang berpendidikan.

Namun, setelah Karin pikir-pikir lagi, memang ada beberapa bukti yang menunjukan kalau Donwori ini berbeda dengan laki-laki lain. Pertama adalah dari keahlian suaminya. Berbeda dengan laki-laki lain, Donwori ini lebih rapi. Ia gemar memasak, masakannya pun enak.

Waktu itu, Karin senang-senang saja dengan kelebihan suaminya. Toh ia malah tak perlu repot-repot masak, suaminya lebih rajin dan hasul mesakannya juga lebih maknyus.

Kedua, ia kerap dengar kalau suaminya diolok-olok teman dan keluarga dengan kata-kata seperti cewek. Bahkan oleh orang tua Donwori sendiri. "Bojoku memang rapi, suka bersolek, Mbak. Ya tak pikir gara-gara itu, Mbak," lanjutnya. Kali ini Karin mengatakannya dengan polos, tidak kritis lagi.

Satu bukti yang lebih menjurus adalah, Karin beberapa kali menangkap gesture mencurigakan Donwori ketika melihat laki-laki ganteng.

Setiap melihat laki-laki bening lewat, kaki dan tangannya selalu gelisah.  “Ealah  Mbak-mbak, dulu tak pikir dia gitu gara-gara cemburu. Takut aku direbut cowok lain. Eh tibake dia sing nafsu," katanya lagi.

Bukti terakhir yang bisa Karin kumpulkan adalah dari anak-anaknya. Karin tak pernah sadar, mengapa Donwori suka sekali menamai kedua anak laki-lakinya dengan nama-nama flamboyan yang melambai-lambai. Rupanya jiwanya yang juga melambailah alasannya.

Namun sayang sekali, belum sempat Radar Surabaya tahu kriteria nama gay menurut versi Karin ini, perempuan ayu itu keburu bergegas, masuk ruang sidang gara-gara telah dipanggil.  Yang jelas, pasti bukan Ferguso atau Rosalinda yang telenovela sekali itu. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia