Selasa, 19 Mar 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Kakek Mbois Ini Pakai Duit Pensiunan buat 'Jajan' di Bawah Jembatan

15 Desember 2018, 04: 25: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Tua-tua keladi makin tua makin menjadi. Pepatah ini, Donwori banget. Sudah jadi kakek-kakek, bukannya mbeneh, malah bikin malu keluarga. Alih-alih untuk jajanin cucu, uang pensiunannya ia gunakan untuk “ jajan “ di bawah jembatan.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Karin bisa dibilang sudah nenek-nenek. Usia pun sudah kepala enam. Namun ia nekat menggugat cerai Donwori. Keputusan berpisah ia ambil lantaran geram dengan sikap bebal suaminya. “ Wes tuwo bukane ngakeh-ngakehne ibadah, malah bikin malu keluarga si mbah itu,” kata Karin saat berada di kantor pengacara. dekat Pengadilan Agama  (PA)  Klas 1A Surabaya.

Rupanya, ini berkenaan dengan kebiasaan buruk Donwori . Donwori suka sekali “jajan” sembarangan. Kebiasaan buruk Donwori ini sudah berlangsung lama, sejak muda. Dulu, langganannya adalah  salah satu rumah bordil di area  lokalisasi terkenal di Surabaya.  Ia mengatakan, kebiasaan jajan sembarangan itu sempat mandek beberapa waktu. Namun ia tak menyangka, ketika sudah pensiun, kebiasaan Donwori malah kambuh lagi. “ Mentang-mentang wes gak onok kegiatan, dia cari kegiatan di sana,” lanjut Karin, jengkel.

Bahkan, ketika gang Dolly sudah tutup,  Donwori tak kehabisan akal. Lokasi jajannya pun kini berpindah ke panti pijat refleksi di bawah jembatan yang menawarkan jasa plus-plus.

Parahnya, untuk kebutuhan jajan itu, Donwori menggunalkan uang pensiunannya. Alhasil, jatah yang seharusnya diberikan kepada Karin, berkurang. Namun bukan itu masalahnya. Kalau urusan uang, Karin sudah tak ada masalah.

Toh ia sudah dijatah anak-anaknya. Namun kebiasaan buruk ini sudah jadi bahan omongan tetangga. Rupanya, Donwori ini juga tak tahu malu. Bukannya ditutup-tutupi, ia kerap sesumbar kepada tetangga tentang pelayanan di panti pijat langganannya.

Tentu saja sikap Donwori ini bikin malu keluarga. Alhasil, atas desakan anak-anaknya, Karin menggugat cerai Donwori. Keputusan itu pun sudah bulat lantaran Donwori ini bebalnya minta ampun. Tak kurang-kurang Karin dan anak-anaknya memohon agar Donwori berhenti jajan sembarangan.

Namun Donwori hanya nggah-nggeh gak kepanggih.  Sehari dua hari tobat, bulan berikutnya kambuh lagi. Dan mempermalukan keluarga besar lagi.

“Tapi maaf  ya bu, kok baru minta cerainya sekarang, kan bikin malunya sudah lama,” tanya Radar Surabaya hati-hati, takut Karin tersinggung.

“Ya gak tahu lah, Mbak. Aku dari dulu ya malu sebenere, cuman tak empet ae. Sekarang aja dipaksa anakku jadi yakin mau cerai. Wes kadung ngisin-ngisini,” pungkasnya. (*/opi) 

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia