Senin, 20 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Didakwa Pakai Sabu, Guru Ngaji Ini Ajukan Eksepsi

13 Desember 2018, 23: 20: 14 WIB | editor : Wijayanto

TERDAKWA: Hafid (tengah rompi hijau berpeci) di PN Surabaya.

TERDAKWA: Hafid (tengah rompi hijau berpeci) di PN Surabaya. (M MAHRUS/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Terdakwa Hafid, warga Surabaya yang berprofesi sebagai guru ngaji dan perukyah mengajukan eksepsi dengan surat dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU). Hal itu dilakukan lantaran dia merasa tidak menggunakan narkoba dan dia tidak pernah dites urine saat diringkus Satresnarkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak. 

Dalam dakwaan tersebut, Hafid dikenakan pasal 112 jo Pasal 132 UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika. Sedangkan saat dibekuk di rumah Abdul Bahris, tersangka lainnya, tidak disidangkan dengan alasan tersangka gila. 

"Dakwaan yang sangat janggal karena klien kami datang ke rumah Abdul Bahris untuk merukyah jadi bukan mengisap sabu-sabu seperti yang didakwakan," kata kuasa hukum Hafid, Abdulah Aziz Balmar, Rabu (12/12). 

Dia menjelaskan ada beberapa faktor yang membuat janggal dakwaan tersebut, seperti terdakwa tidak pernah diambil tes urinenya. "Kami langsung mengajukan keberatan dengan dakwaan tersebut," tegasnya.

Abdulah berjanji akan membuktikan semuanya di eksepsi untuk membukti terdakwa tidak pernah menggunakan narkoba. "Klien kami guru ngaji, bahkan dirinya tidak pernah tahu sabu-sabu itu seperti apa," bebernya.

Sidang berlangsung di ruang Sari 2, Pengadilan Negeri (PN) Surabaya itu menyidangkan terdakwa Hafid yang terlibat menggunakan narkoba bersama Abdul Bahris. Surat dakwaan dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Adhiem Widigdo dan Oki Muji Astuti dalam dakwaan itu, terdakwa ini mengisap sabu-sabu dengan Bahris  di dalam rumahnya terdakwa di Jalan Nyamplungan Surabaya. 

Saat itu, anggota Satresnarkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak menangkap terdakwa. Ketika digelah polisi menemukan alat isap yang ada di rumah Bahris. Namun dalam pemeriksaan, polisi menghentikan kasus yang menyeret Bahris lantaran terdakwa dinyatakan gila, namun untuk terdakwa Hafid tetap lanjut hingga disidangkan.

Terkait dengan eksepsi yang diajukan itu, JPU Adhiem Widigdo tidak mempermasalahkan keberatan dari terdakwa. "Itu hak dari terdakwa, kami siap saja," tandas Andhiem. (rus/jay)

(sb/rus/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia