Selasa, 19 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya

Jasa Perahu Tambang, Berisiko tapi Tetap Diminati

12 Desember 2018, 05: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

MASIH DIMINATI: Para pengguna fasilitas layanan penyeberangan sungai di kawasan Wonokromo, Surabaya.

MASIH DIMINATI: Para pengguna fasilitas layanan penyeberangan sungai di kawasan Wonokromo, Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Pada musim penghujan seperti saat ini jasa penyeberangan perahu tambang tetap diminati warga. Padahal di musim hujan, risikonya cukup tinggi mengingat debit air bisa sewaktu-waktu meningkat karena datangnya hujan.

Penyeberangan perahu tambang terlihat lalu lalang beraktivitas seperti di sungai Gunungsari, sungai Berantas Wonokromo dan juga di kawasan Ngagel, Surabaya. Para penumpang atau pengguna jasa perahu tambang ini terlihat memenuhi perahu saat jam sibuk seperti waktu masuk sekolah dan jam masuk kerja.

Jasa perahu tambang diminati selain dianggap bisa memangkas waktu perjalanan juga biasanya murah. Meski saat musim hujan seperti sekarang ini para penambang ada rasa was-was dan khawatir jika sewaktu-waktu debit air tiba-tiba meningkat.

“Ada kekhawatiran setiap musim hujan ini, mulai dari meluapnya air , sampai derasnya arus,” kata salah satu operator perahu tambang, Mulyono.

Mulyono sehari-hari mengoperasikan perahu tambangnya, di Sungai Gunungsari. Dia mengaku sudah melayani warga yang hendak menyeberang dengan perahu, kurang lebih 8 tahun.  “Saya berharap bekerja dengan baik dan selamat,” harapnya.    

Menurut Mulyono, saat musim hujan debit air sungai memang meninggi. Hal ini seiring dengan derasnya hujan. Meski demikian, tak menyurutkan warga untuk menggunakan jasanya. Buktinya, para pengendara motor dan penyeberang bukannya menurun malah bertambah.

Salah satu pengguna jasa perahu tambang, Maulana (22), warga Gedangan, Sidoarjo mengakui bila perahu tambang yang ada tidak memiliki standar keselamatan. Namun demikian, tak mengurungkannya niatnya untuk meggunakan jasa perahu tambang.

Alasannya, jasa ini memangkas waktu. Sehingga mahasiswa di salah satu kampus  di Surabaya ini bisa lebih cepat sampai di tujuan dibandingkan saat melewati rute jalan raya. Untuk bisa mencapai tempat kuliahnya, dia mengaku membutuhkan waktu 15 menit dengan menggunakan jasa perahu tambang.

Berbeda jika memutar jalan melewati kawasan jembatan Rolak, dirinya butuh waktu tempuh sekitar 25 menit untuk tiba di tempat kuliahnya. “Kalau memutar memang membutuhkan waktu lama sekitar 25 menit. Akan tetapi jika menggunakan akses penyeberangan perahu tambang cukup membayar seribu rupiah, 15 menit sudah sampai di tempat tujuan,” pungkasnya.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jatim Mahdi mengatakan untuk meminimalisir angka kecelakaan yang disebabkan perahu tambang di Jatim bisa dibahas bersama. Menurutnya jika perlu, dibuatkan regulasi sebagai payung hukum agar penumpang dan juga penambang tetap terlindungi dari sisi keselamatan.

Politisi PPP ini mengaku tidak bisa aktivitas yang sudah berjalan puluhan tahun ini dilarang. Sebab tak sedikit warga yang menganggap perahu tambang ini bermanfaat untuk kepentingan masyarakat.

“Selain bisa memotong jarak yang jauh jika melalui jembatan, juga bisa menghemat waktu,” katanya.

Mahdi mengatakan  sebenarnya upaya pemerintah dalam membangun jembatan sebagai penghubung wilayah terus dilakukan. Hanya saja pembangunan jembatan ini menurutnya masih terkendala biaya.

“Kalau jalan dan jembatan Provinsi itu kan dari APBD Provinsi.  Tapi anggaran kabupaten itu tidak cukup kalau harus dibuat jembatan di kawasan pinggiran,” ujarnya.

Menurutnya, keamanan perahu harus menjadi prioritas yang utama. Menurutnya harus ada standarisasai perahu tambang yang layak dipakai. “Selain itu, harus ada pengawasan keberadaan perahu tambang itu. Selain itu ada laporan berkala terkait kondisi kapal tambang,” jelasnya. (aji/musrtn)

(sb/mus/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia