Jumat, 06 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Tergerus Pohon Sintetis, Cemara Sepi Peminat

11 Desember 2018, 13: 43: 38 WIB | editor : Wijayanto

TAK BANYAK PEMINAT: Salah satu pedagang bunga di Pasar Bunga Bratang. Tahun ini penjualan pohon cemara menurun karena masyarakat lebih memilih pohon s

TAK BANYAK PEMINAT: Salah satu pedagang bunga di Pasar Bunga Bratang. Tahun ini penjualan pohon cemara menurun karena masyarakat lebih memilih pohon sintetis sebagai pengganti pohon natal. (ISMAUL CHOIRIYAH/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Pedagang bunga di pasar bunga Bratang mengeluhkan penjualan pohon natal yang masih sepi. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, akhir bulan November hingga tanggal 25 Desember adalah masa ramainya orang mencari pohon natal.

Salah satu penyebab lesunya penjualan adalah peralihan perilaku konsumen. Diakui oleh banyak penjual, saat ini orang-orang cenderung menyukai pohon natal sintetis. Pertimbangannya karena lebih praktis dan lebih hemat karena bisa dipakai berulang-ulang.

Seperti yang disampaikan oleh Irvan. Penurunan penjualan ini sudah terjadi lima tahun lamanya. Turunnya pun drastis, hingga 70 persen. Jika dulu selama season Natal ia bisa menjual 30 hingga 40 pohon, kini untuk menjual belasan pun terseok-seok. Bahkan, sejak pohon-pohon ini didatangkan, penjualannya masih mentok di angka lima pohon saja.

“Kalau tahun kemarin, satu Desember juga sudah ada yang cari, sekarang malah belum kelihatan,” katanya, Senin(10/12).

Karena penurunan penjualan ini, iapun akhirnya menurunkan stoknya sebanyak 15 biji. Itupun, ia pesimistis akan laku seluruhnya.

Keluhan yang sama juga disampaikan oleh Nur. Meski telah menjual 15 pohon sejak akhir November lalu, ia juga mengeluhkan penjualannya yang turun. Ia memprediksi, hingga natal nanti, penjualannya akan bertahan pada angka 50 persen. “Angka segitu sudah bagus untuk penjual bunga,” paparnya.

Meski banyak konsumen yang beralih ke tanaman sintetis, para pedagang ini tetap menyediakan stok pohon natal. Pertimbangannya, pembeli pohon cemara hidup akan tetap ada. Khususnya mereka yang fanatis terhadap pohon natal yang asli. Biasanya yang seperti ini adalah karakter konsumen ibu-ibu. “Sebenarnya juga bisa awet hingga tahun depan kalau tahu cara merawatnya,” paparnya.

Di pasar bunga Bratang, ada beberapa penjual yang tetap menyediakan pohon cemara. Jenisnya juga bervariasi, mulai dari kipas, cemara wangi, dan pua-pua. Cemara pua-pua bentuknya lebih runcing dengan tinggi antara dua meter. Pohon cemara ini dibanderol dengan harga 250 ribu rupiah keatas.

Namun, cemara berukuran mini seperti cemara wangi kini lebih banyak dicari. Bentuk yang praktis rimbun dan tidak makan tempat kini lebih digemari oleh konsumen. Untuk jenis satu ini dibanderol dengan harga 125 ribu rupiah. Cemara-cemara ini didatangkan dari beberapa daerah seperti Ledug, Prigen dan Batu. (is/nur)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia