Selasa, 18 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo

30 Persen Sampah di TPA Jabon dari Pasar

08 Desember 2018, 11: 09: 35 WIB | editor : Wijayanto

BUTUH SOLUSI: Sampah kulit kelapa di Pasar Larangan yang menggunung.

BUTUH SOLUSI: Sampah kulit kelapa di Pasar Larangan yang menggunung. (SATRIA NUGRAHA/RADAR SIDOARJO)

Share this      

SIDOARJO - Volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Kupang, Kecamatan Jabon, masih tinggi. Setiap hati jumlahnya mencapai 400 ton. Dari ratusan ton sampah yang dibuang, 30 persennya berasal dari pasar.

Kepala Bidang Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sidoarjo Nawari mengakui banyaknya sampah dari pasar yang dibuang ke TPA Jabon. Salah satunya dari Pasar Porong. Setiap hari ada delapan truk yang mengangkut sampah. Volume sampah yang dibuang sekitar 24 meter kubik.

Besarnya persentase sampah yang dibuang ke TPA Jabon karena tidak ada pengolahan sampah terlebih dahulu. Sampah pun langsung diangkut ke TPA. Selain itu, ada juga sumbangan sampah dari warga.

Menurut Nawari, mayoritas TPS di pasar lokasinya berada di depan pasar. "Warga yang rumahnya berdekatan dengan pasar ikut membuang di TPS pasar," ujarnya.

Saat ini pihaknya sudah merancang solusi untuk mengatasi permasalahan sampah di pasar. Pertama, dengan menambah fasilitas pengolahan sampah di pasar. Selama ini TPS pasar memang hanya menampung sampah. "Ke depan, pihaknya akan memilah dan mencacah sampah terlebih dulu," katanya.

Agar program tersebut bisa berjalan, pihaknya akan membelikan mesin pengolah sampah. Penempatannya akan diberikan di tiga pasar. Yakni Pasar Gedangan, Sidoarjo, Krian, serta Porong. Alasannya, volume sampah di ketiga pasar tersebut sangat tinggi.

Solusi kedua, Disperindag akan menggandeng Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) untuk mengatasi sampah. Selama ini persoalan sampah di pasar memang menjadi kewenangan Disperindag. Namun ke depan tidak menutup kemungkinan dituntaskan bersama.

Sementara itu, Kepala Disperindag Fenny Apridawati mengatakan, kebersihan pasar tradisional harus ditingkatkan. Sebab, kebersihan menjadi salah satu parameter pasar Standar Nasional Indonesia (SNI). Saat ini, Disperindag berupaya memacu seluruh pasar memiliki sertifikasi SNI. "Kebersihan dan kenyamanan yang utama," ujarnya. (nis/rek)

(sb/nis/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia