Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Waiters Kafe Nyambi Jualan Seks Mahasiswi

Setiap Hari Siapkan 15 Cewek Siap Booking

07 Desember 2018, 17: 04: 17 WIB | editor : Wijayanto

MUCIKARI: Joko Santoso (tengah) saat diamankan di Polrestabes Surabaya.

MUCIKARI: Joko Santoso (tengah) saat diamankan di Polrestabes Surabaya. (YUAN ABADI/RADAR SURABAYA)

Share this      

Surabaya - Pekerjaan sampingan Joko Santoso,25, mengiringnya ke penjara. Sebagai waiters di salah satu kafe, pria asal Desa Sidomulyo, Kecamatan Bancar, Tuban atau tinggal  di Jalan Banyu Urip Wetan Surabaya ini nyambi menjadi mucikari. Dia menawarkan wanita ke sejumlah tamu yang biasa nongkrong di kafe tempat ia bekerja.

Usaha yang dijalankan Joko tersebut terungkap pada Rabu (5/12).  Penangkapan Joko berawal informasi adanya tindak pidana perdangan orang (TPPO) yang berasal di salah satu kafe di Surabaya. “Saat itulah kami mendapati adanya dua cewek yang di booking pria hidung belang di salah satu kamar hotel di Surabaya Pusat. Kami menggerebek keduanya bersama dua pria hidung belang,” ungkap Kanit Jatanras Satreskrim Polrestabes Surabaya, AKP Agung Widoyoko, Kamis (6/12)

Agung mengatakan dari keterangan dua wanita tersebut didapati mereka memperoleh bookingan tersebut dari tersangka Joko.  Kemudian Joko ditangkap di tempat kerjanya. Dari hasil pemeriksaan sementara, terdapat bukti chatting Whatsapp antara tersangka dan korban.

“Dari bukti tersebut, tersangka tak bisa mengelak,” ujar Agung.  

Lebih lanjut, Agung menjelaskan, dalam bisnisnya, tersangka memiliki sedikitnya 15 perempuan siap booking. Modusnya, dia menawarkan wanita tersebut ke sejumlah pria hidung belang yang sering nongkrong di kafe tempat ia bekerja. Caranya dengan menunjukkan foto-foto para korban itu. 

Setelah tersangka dan pria hidung belang setuju, keduanya saling bertukar nomor untuk berkomunikasi lebih intens untuk membahas tarif dan lokasi chek in. Tarif yang biasa ditawarkan Joko ialah Rp 3 Juta. Jumlah tersebut sudah termasuk hotel.  "Jika deal, customer diminta untuk menransfer uang kepada tersangka sebagai tanda setuju," tandas Agung.

Setelah transaksi berjalan lancar, tersangka kemudian mengintruksikan perempuan yang dipilih untuk bertemu di sebuah hotel yang sebelumnya sudah disepakati bersama customer. "Dari nominal tersebut, tersangka mengambil bagian sekitar Rp 500 ribu," tegas Agung.

Diantara 15 perempuan yang dimiliki tersangka, ada beberapa yang berstatus mahasiswi sementara yang lain pekerja freelance. Namun, saat disinggung terkait lokasi kampus tersebut, Agung enggan membeberkan.

"Ya masalah itu kan dampaknya panjang, kasihan kampusnya," singkat dia.

Selama kurang lebih setahun bernisnis, tersangka sudah menawarkan lebih dari 10 perempuan. Selain itu, untuk para pria hidung belang, tersangka mengaku kebanyakan dari pengusaha. "Ya orang biasa yang sering nongkrong di tempat saya bekerja. Untungnya ya buat tambahan hidup di Surabaya," ungkap Joko. (yua/rtn)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia