Rabu, 12 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi

Penyusutan Lahan Pertanian Jadi Masalah Ketahanan Pangan

07 Desember 2018, 16: 51: 11 WIB | editor : Wijayanto

FOKUS: Lahan pertanian yang terus menyusut mengancam ketahanan pangan.

FOKUS: Lahan pertanian yang terus menyusut mengancam ketahanan pangan. (DOK/JPC)

SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) menyebutkan ada hal yang menjadi masalah ketahanan pangan, yakni faktor cuaca. Selain itu faktor ketersediaan lahan setiap tahunnya yang terus menyusut lantaran beralih menjadi tempat tinggal.

“Rata-rata penyusutan lahan mencapai 1.953 hektar per tahun. Biasanya, lahan pertanian tersebut berubah menjadi perkantoran, perumahan, kawasan industri, dan pariwisata,” ujar Sekretaris Daerah Provinsi Jatim Heru Tjahjono, Kamis (6/12).

Dengan lahan yang semakin sempit ini, Heru mengaku saat ini pemprov sedang melakukan pembahasan untuk membuat sebuah formula baru yang bisa tahan terhadap hujan maupun penyakit. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk tetap menjaga ketahanan pangan di Jawa Timur. 

“Kami juga meminta kepada bupati atau wali kota untuk mengecek kembali peraturan daerah tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Karena saat ini baru 22 kabupaten yang telah membuat LP2B,” jelasnya.

Heru menuturkan, Jatim merupakan tulang punggung ketahanan pangan nasional. Untuk itu, lanjut Heru, Pemprov Jatim terus menjaga produksi pangan mulai dari perikanan, kelautan, pertanian dan perkebunan. “Gubernur Jatim juga sudah melakukan beberapa hal untuk ketahanan pangan, salah satunya adalah konsep hulu hilir, tujuannya adalah agar kualitas ketahanan pangan dan produksi bisa bagus serta ekonomis,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim Hadi Sulistyo menjelaskan, kebutuhan pangan di Jatim sudah sangat baik. Bahkan sampai saat ini Jatim saat ini masih menyuplai beberapa kebutuhan pangan seperti beras juga yang lainya ke 15 provinsi di luar Jatim.

“Saat ini kami sudah menyiapkan puluhan hektar lahan pertanian untuk meningkatkan ketahanan pangan di Jatim. Kami juga melakukan tanam tumpangsari untuk menunjang kebutuhan pangan,” jelasnya.

Hadi tidak mengelak kalau memang terjadi penyusutan lahan pertanian di Jatim. Menurutnya, penyusutan ini lahan pertanian sudah banyak beralih fungsi menjadi kawasan industri dan permukiman. Bahkan banyak kabupaten maupun kota di Jatim yang belum menyusun Perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW). “Jika dilihat dari tahun 2014 hingga tahun 2017 total penyusutan sebesar 7,8 hektar,” pungkasnya. (mus/nur)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia