Rabu, 12 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Kompetensi Lebih Mumpuni, Pengangguran Justru Didominasi Lulusan SMK

07 Desember 2018, 16: 02: 08 WIB | editor : Wijayanto

PARADOKS: Dengan kompetensi yang lebih mumpuni, angka pengangguran di Jatim justru didominasi lulusan SMK.

PARADOKS: Dengan kompetensi yang lebih mumpuni, angka pengangguran di Jatim justru didominasi lulusan SMK. (DOK/JPC)

SURABAYA – Jumlah pengangguran terbuka di Jawa Timur (Jatim) sebanyak 803 ribu orang. Dari segi lulusan, banyak angkatan kerja lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang tidak tertampung di dunia kerja.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jatim Himawan Estu Subagijo mengatakan, berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), jumlah siswa lulusan SMK di Jatim yang tidak tertampung di tempat kerja tahun ini mencapai 8,83 persen. Namun, persentasenya menurun dibandingkan pada tahun sebelumnya, yaitu jumlah lulusan SMK yang tidak bekerja sebanyak 9,01 persen.

“Posisi kedua lulusan SMA. Tahun ini ada 6,3 persen lulusan SMA tidak tertampung di dunia kerja. Persentasenya juga sedikit menurun dibandingkan dengan periode sebelumnya, yaitu Agustus 2017 sebesar 6,75 persen,” jelasnya.

Untuk jenjang D3 yang tidak bekerja tercatat sebanyak 5,06 persen. Persentasenya juga menurun dibandingkan Agustus 2017 sebanyak 7,47 persen. Data berbeda justru terjadi pada lulusan sarjana yang menunjukkan kenaikan persentase sebesar 5,29 persen yang menganggur. Persentasenya naik dibandingkan tahun 2017 yang hanya 4,11 persen lulusan sarjana menganggur.

Untuk lulusan SMP per Agustus 2018 tercatat 4,1 persen menganggur atau turun dibandingkan Agustus 2017 sebanyak 4,3 persen pengangguran. Untuk lulusan sekolah dasar, jumlah pengangguran tahun ini sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Yang awalnya 1,66 persen naik menjadi 1,67 persen.

Pria yang akrab disapa Himawan ini mengatakan tingginya angka pengangguran dari lulusan SMA/SMK disebabkan banyak faktor. Yakni banyaknya lulusan SMA SMK tiap tahunnya yang mencapai 234.000 orang, padahal lapangan kerja di Jatim tidak banyak berubah. “Faktor yang kedua bisa saja lulusan SMK tersebut kompetensinya kurang diterima di industri lapangan kerja. Sehingga lulusan SMK yang seharusnya bisa langsung bekerja akhirnya malah menjadi penyumbang terbanyak pengangguran terbuka di Jawa Timur,” jelasnya.

“Banyak siswa SMK yang salah dalam memilih jurusan. Sehingga ketika bekerja mereka melamar ke perusahaan yang sesuai dengan minatnya bukan ijazahnya,” imbuh Himawan.

Mantan Kabiro Hukum Pemprov Jatim ini menambahkan, tingkat partisipasi angkatan kerja di Jatim tahun 2018 juga turun menjadi  69,37 persen. Seharusnya ketika angka pengangguran turun maka angka partisipasi kerjanya naik. “Kami menduga hal ini terjadi karena warga Jatim mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. Contohnya pekerjaan reseller yang tidak membutuhkan kantor tetapi tetap memberikan penghasilan tinggi. Ini yang tidak bisa kami pantau,” pungkasnya. (mus/nur)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia