Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Tak Bisa Terjemahkan Surat dari RS, Warga Tuban Batal Ganti Kelamin

PN Kabulkan Pencabutan Permohonan Yoyok Denissia

28 November 2018, 09: 32: 45 WIB | editor : Wijayanto

DOK: Hakim tunggal Dede Suryaman mengabulkan pencabutan perkara dari pemohon ganti kelamin, Yoyok alias Denissia Prasetyo (foto kanan).

DOK: Hakim tunggal Dede Suryaman mengabulkan pencabutan perkara dari pemohon ganti kelamin, Yoyok alias Denissia Prasetyo (foto kanan). (YUAN ABADI/RADAR SURABAYA/INSTAGRAM)

Share this      

SURABAYA - Permohonan ganti identitas kelamin dan nama yang diajukan Yoyok Prasetyo, 23, batal dikabulkan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (27/11). Pasalnya, pria yang tinggal di Jalan Kedungtarukan 84 D Surabaya tersebut mencabut permohanannya untuk disahkan menjadi wanita dengan nama Denissia Prasetyo.

Tak jelas alasan pencabutan itu. Hanya saja beradar kabar jika Yoyok yang ingin ganti identitas kelamin menjadi wanita dan ganti nama menjadi Denissia itu, tak mampu menerjemahkan surat keterangan dari rumah sakit (RS) Phuket di Thailand yang melakukan operasi ganti kelamin. 

Pencabutan permohonan itu resmi dikabulkan setelah hakim tunggal Dede Suryaman menggelar sidang di PN Surabaya. Dalam sidang yang tak dihadiri oleh pemohon dan kuasa hukumnya, Dede memutuskan jika pencabutan permohonan itu resmi dikabulkan. Artinya secara sah, Yoyok batal menjadi perempuan sesuai keinginannya. 

"Dengan ini hakim tunggal mengabulkan permohonan dari pemohon untuk dicabut," ungkap Dede. 

Sidang yang digelar di ruang sidang Garuda 2 PN Surabaya ini dipimpin langsung oleh Dede Suryaman bersama seorang panitera. Pengajuan permohonan ganti identitas kelamin ini diajukan warga Tuban itu pada 13 November lalu.

Permohonan itu tercatat dalam register PN Surabaya Nomor 1360/Pdt.P/2018/PN Sby. Namun saat hendak digelar sidang putusan, Yoyok ternyata mencabut permohonan itu. 

Saat ditemui usai sidang, hakim Dede mengatakan meski permohonan dicabut oleh pemohon, namun sidang harus tetap digelar. Hal itu untuk memberikan kepastian hukum pencabutan tersebut.

Apalagi permohonan tersebut sudah masuk dalam tahap sidang putusan. Namun saat ditanya mengenai alasan pencabutan permohonan, Dede mengaku tak mengetahui secara pasti.

"Kami tidak tahu pasti kenapa pemohon mencabut laporannya. Tapi kami mendapat surat untuk mencabut permohonannya," jelasnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Yoyok mencabut permohonan itu lantaran tak bisa men-translate surat keterangan dokter dari RS Phuket di Thailand tempat dia melakukan operasi ganti kelamin.

Sebelumnya surat tersebut dilampirkan Yoyok sebagai persyaratan dalam permohonannya yang menyatakan jika dirinya sudah menjalani operasi ganti kelamin menjadi wanita. 

Operasi ganti kelamin tersebut dilakukan setelah Yoyok alias Denissia mengenal dan menikah dengan seorang WNA pria di Bali. 

Terpisah saat dikonfirmasi, Humas PN Surabaya Sigit Sutriono mengatakan bahwa pencabutan terhadap perkara Yoyok Prasetyo disebabkan karena surat keterangan rumah sakit yang diberikan pemohon berbahasa Thailand.

Sehingga, PN Surabaya tidak bisa memproses surat tersebut karena PN Surabaya bukan pengadilan internasional. Menurut Sigit, pihak PN telah memberikan kesempatan kepada pemohon untuk memperbaiki dan mengubah surat tersebut ke dalam bahasa Indonesia.

Namun hingga batas yang ditentukan, pemohon tidak bisa memenuhi syarat tersebut dan akhirnya melakukan pencabutan permohonan. "Kalau misal pemohon kembali mengajukan permohonan dengan syarat yang lebih lengkap, tentu kami akan proses," imbuh. (yua/jay)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia