Jumat, 06 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Satu Pemohon Ganti Kelamin Dikabulkan, Satu Masih Menunggu

24 November 2018, 05: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi (NET)

Share this      

SURABAYA  - Satu pemohon yang mengajukan identitas ganti kelamin di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya dipastikan mendapatkan identitas baru. Sebab PN mengabulkan permohonan tersebut.

Dia adalah Avika, warga asal Nganjuk. Dengan keputusan hakim itu, laki-laki ini secara sah menyandang status sebagai perempuan.

Hakim Pujo Saksono mengatakan permohonan Avika tersebut dikabulkan pada awal November lalu. Sebelumnya Avika mengajukan untuk mengubah identitasnya dari laki-laki menjadi perempuan. Pujo mengatakan proses pengabulan pemohon tersebut dilakukan cepat.

 “Sebab segala syarat untuk mengajukan perpindahan identitas kelamin tersebut sudah cukup,” ungkap Pujo Saksono, hakim yang menangani persidangan itu, Jumat (30/11).

Menurut Pujo, dalam persidangan Avika mengatakan dirinya memang sejak lahir adalah laki-laki. Namun seiring berjalannya waktu, ia merasa jika dia adalah perempuan.

Bahkan pria yang pernah menjadi mahasiswa di Jogjayakarta ini sudah melakukan operasi kelamin.  “Operasi alat vital sudah dilakukan sejak tahun 2015 di RSUD Dr Sutomo. Namun baru mengajukan permohonan ke pengadilan pada September 2018 lalu,” ujarnya.

Dia menjelaskan pertimbangan hakim untuk mengabulkan permohonan Avika memang karena syarat dan bukti persidangan sudah cukup. Selain sudah melakukan operasi kelamin, keterangan sejumlah saksi mulai dari keluarga, dan ahli juga sudah mendukung putusan tersebut.

“Kata ibunya dalam persidangan, Avika sejak kecil hobi dandan mirip perempuan. Padahal ia tahu anaknya laki-laki,” terangnya.

Setelah itu, ia sudah mengecek sejumlah dokumen yang menyatakan jika Avika sudah memenuhi “syarat” sebagai perempuan. Seperti keterangan dari RSUD Sutomo dan ahli dari psikiater, psikolog bahkan ahli penyakit dalam.

“Majelis tentu mempercayai keterangan para ahli yang saling berkaitan itu. Sehingga kami kabulkan permohonan identitas ganti kelamin Avika,” tegas Pujo.

Secara detail, Pujo mengatakan sejak kecil hormon dan gen Avika sudah mengarah ke perempuan. Hal itu juga ditandai dengan alat kelaminnya yang tidak berkembang dengan baik. Dalam persidangan, Pujo juga sempat mempertanyakan kepada Avika apakah pernah mimpi basah.

“Dia menjawab tak pernah (mimpi basah,Red). Selain itu dia tak tertarik kepada perempuan. Mengenai alasannya, ya memang karena melihat psikis pemohon yang merasa dirinya wanita,” tandasnya.

Selain Avika, Pengadilan Negeri Surabaya juga tengah menangani pemohon idenitas ganti kelamin lain. Dia adalah Yoyok Prasetyo, 25, warga asal Tuban.

Yoyok memohon agar ia disahkan pengadilan menjadi seorang perempuan. Hanya saja, pengajuan itu masih dalam proses persidangan. “Proses pemohon Yoyok masih dalam persidangan dengan mendengarkan keterangan saksi keluarga,” ungkap Humas Pengadilan Negeri Surabaya, Sigit Sutrisno.

Rencannya ketua Majelis Hakim Dede Suryaman akan memutuskan pengajuan Yoyok minggu depan. Dalam putusannya, majelis hakim akan mempertimbangkan banyak aspek yang didapat dari keterangan ahli. Antara lain, kedokteran, tokoh agama dan juga psikiatri.

“Pihak yang mengajukan, sudah melakukan operasi ganti kelamin di Thailand. Dia ingin ganti kelamin lantaran sudah menikah dengan seorang bule laki-laki asal Skotlandia di Bali,” terangnya.

Menurut Sigit, sejauh ini tidak ada perundang-undangan yang mengatur pergantian identitas kelamin. Putusan pengadilan nanti bersifat inckhrah dan sah di mata hukum. Nantinya, jika sudah disetujui, maka semua dokumen menyangkut identitas pemohon dari sebelumnya berjenis kelamin laki-laki berubah menjadi perempuan. (yua/rud)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia