Sabtu, 15 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi

Laba Sebelum Pajak Bank Yudha Bhakti Naik 273 Persen

21 November 2018, 18: 46: 45 WIB | editor : Wijayanto

OPTIMIS: Dirut Bank Yudha Bhakti Tbk Arifin Indra (ketiga dari kiri) berbincang akrab dengan direksi dan komisaris seusai Rapat Umum Luar Biasa Pemegang Saham dan Publoc Expose di Jakarta, Rabu (21/11) .

OPTIMIS: Dirut Bank Yudha Bhakti Tbk Arifin Indra (ketiga dari kiri) berbincang akrab dengan direksi dan komisaris seusai Rapat Umum Luar Biasa Pemegang Saham dan Publoc Expose di Jakarta, Rabu (21/11) . (ISTIMEWA)

JAKARTA - PT. Bank Yudha Bhakti, Tbk  memperkirakan laba sebelum pajak hingga Desember 2018 mencapai Rp 74.93 miliar (unaudited) atau naik sebesar 273,64 persen dibanding Desember 2017 yang hanya Rp 20 miliar (audited). Sementara pertumbuhan total aset diperkirakan meningkat 1,76 persen menjadi Rp 5,10 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang Rp 5 triliun.

’’Estimasi laba di akhir tahun 2018 menjadi sebesar Rp 74,93 miliar terkait dengan kebijakan perseroan yang akan membentuk cadangan CKPN ± sebesar Rp 30 miliar,’’ jelas Direktur Utama PT Bank Yudha Bhakti, Arifin Indra, saat menyampaikan kinerja perseroan pada Rapat Umum Luar Biasa Pemegang Saham dan Public Expose PT Bank Yudha Bhakti di Jakarta, Rabu (21/11).

Estimasi kredit hingga Desember 2018 diperkirakan mencapai Rp 4,08 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 4,16 miliar dibandingan realisasi kredit tahun 2017 sebesaar Rp 3,91 triliun. Kredit yang disalurkan oleh Bank Yudha Bhakti dialokasikan pada pensiunan TNI/Polri sebesar Rp 2,9 triliun, kredit investasi Rp 724 miliar, kredit modal kerja Rp 158 miliar dan sisanya kredit lain-lain.

Untuk dana pihak ketiga hingga Desember 2018 diperkirakan akan mengalami penurunan sebesar 2,32 persen menjadi Rp 4,04 triliun dibandingkan tahun sebelumnya yang Rp  4,13 triliun. Dana deposito yang awalnya Rp 3,66 triliun turun menjadi Rp 3,59 trilin, dana giro yang awalnya Rp 180 miliar juga turun menjadi Rp 92,5 miliar. Sementara dana tabungan diperkirakan mengalami kenaikan dari Rp 297 miliar menjadi Rp 355 miliar.

Arifin menambahan, estimasi pertumbuhan tahun 2018 akan terkoreksi karena potensi volume permintaan pasar yang belum sepenuhnya ditindaklanjuti sampai dengan akhir tahun ini. Terutama yang berasal dari permintaan kredit sektor rumah tangga dan perdagangan.

Lantas bagaimana dengan perkiraan tahun 2019? Meski kondisi perekonomian global cenderung melambat beberapa tahun ke depan, namun Arifin tetap optimis perseroan yang dipimpinnya akan mengalami pertumbuhan di tahun 2019.

Perseroan telah memasang target total asset meningkat sebesar 34,28 persen menjadi Rp 6,84 triliun, kredit juga naik sebesar 21,78 persen menjadi Rp 4,96 triliun, dana pihak ketiga melonjak sebesar 32,05 persen menjadi Rp 5,34 triliun, dan laba sebelum pajak meningkat 93,01 persen menjadi Rp 144,62 miliar. Adapun untuk rasio keuangan seperti CAR meningkat menjadi 31,00 persen atau jauh di atas target BI dengan rasio NPL netto pada kisaran 0,81 persen.

Untuk tercapainya realisasi rencana bisnis tersebut, maka di tahun 2019 Perseroan akan melakukan beberapa langkah strategis yaitu melakukan kerja sama dengan perusahaan berbasis teknologi dalam rangka meningkatkan porto folio kredit, dan melakukan tranformasi digital dan peningkatan pelayanan berupa Branchless Banking,  menerapkan strategi baru yaitu membentuk kantor dengan spesialisasi bisnis Reguler, funding dan lending serta meluncurkan produk-produk tabungan baru  serta penyaluran kredit berbasis teknologi (fintech) dan program kredit khusus taruna untuk anggota TNI Polri. (pur/jay)

(sb/pur/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia