Minggu, 16 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Jelang Akhir Tahun, Kinerja Industri Mebel Melambat

21 November 2018, 18: 29: 39 WIB | editor : Wijayanto

SEDANG LESU: Perajin menyelesaikan pembuatan mebel di salah satu UMKM di kawasan Jalan Raya Ngagel, Surabaya.

SEDANG LESU: Perajin menyelesaikan pembuatan mebel di salah satu UMKM di kawasan Jalan Raya Ngagel, Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Industri mebel Jawa Timur tahun ini dinilai mengalami perlambatan, terutama pada kinerja ekspor mebel yang sempat mengalami kontraksi hingga -6,73 persen pada September 2018.

Ketua Himpunan Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki) Jawa Timur Nur Cahyudi mengatakan, penurunan ekspor mebel tersebut disebabkan oleh adanya momen high season atau menjelang libur akhir tahun sehingga pasar sedikit mengerem pembelian.

"Di samping itu, perekonomian negara-negara tujuan ekspor kita juga baru membaik, sehingga tren minat pasarnya kurang," katanya di Surabaya, Selasa (20/11).

Nur Cahyudi menjelaskan, meski ekspor furnitur menurun pada September lalu, tetapi secara kumulatif dari Januari - September 2018, ekspor perabotan dari kayu Jatim masih bisa tumbuh tipis, sebesar 1,4 persen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistisk (BPS) Jatim, nilai ekspor barang furnitur dari kayu pada September 2018 mencapai USD 20,6 juta atau turun 6,73 persen dibandingkan Agustus 2018 yang mencapai USD 22,1 juta. Secara kumulatif Januari – September 2018, nilai ekspor mebel tembus USD 195 juta atau naik 1,4 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yakni USD 193 juta.

Sedangkan tujuan ekspor Jatim untuk komoditas non migas selama ini lebih banyak ke Jepang, Amerika Serikat, Tiongkok, dan kawasan ASEAN.

Menurut Nur Cahyudi, meski nilai ekspor menurun, tetapi produksi mebel Jatim di skala mikro dan kecil pada kuartal III tahun ini mengalami pertumbuhan 23,87 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. "Produksi industri furnitur Jatim ini merupakan satu dari tujuh industri manufaktur mikro dan kecil lainnya yang tumbuh di atas 10 persen. Di antaranya seperti industri logam, pakaian jadi, bahan kimia, barang galian, kendaraan bermotor dan percetakan," jelasnya.

Sementara industri manufaktur mebel skala sedang dan besar pada kuartal ketiga 2018 hanya mampu tumbuh 2,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Nur Cahyudi berharap, tahun depan perekonomian kembali pulih dan pasar domestik maupun global kembali bergairah. Selain itu, diharapkan ada peningkatan produktivitas karyawan pabrik sejalan dengan adanya peningkatan upah mininum regional (UMR) Jatim sebesar 8,3 persen.

"Walaupun kenaikan upah ini berat di tengah situasi ekonomi yang loyo, tapi menaikan upah harus tetap dilakukan pengusaha. Yang penting kenaikan upah ini harus mengacu pada PP Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan," imbuhnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia