Senin, 20 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Statusnya Istri Sah, Praktiknya Jadi Pembantu, Karin Pilih Pisah

21 November 2018, 07: 43: 46 WIB | editor : Wijayanto

IIustrasi

IIustrasi (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Istri mana yang tidak nelangsa punya suami bertemperamen keras. Yang memperlakukan istri seperti pembantu. Ya mirip perlakuan Donwori, 29, pada istrinya, Karin, 28.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Usia pernikahan Karin dan Donwori masih seumur jagung. Anak masuk play group saja belum. Tapi Karin sudah nekat minta cerai. Alasannya, ia capek.
Memang benar status tertulisnya sebagai istri sah Donwori. Namun pada praktiknya, Karin hanya jadi suruh-suruhan yang akan kena semprot kapan saja kalau sedikit saja melakukan salah.
Seperti istri lain, meskipun Karin nyambi bekerja, ia tetap harus menjalankan pekerjaan rumah sendirian. Nyapu, masak, nyuci dan berberes menjadi rutinitasnya sehari-hari. Sudah bekerja ekstra begitu, rupanya ia tetap banyak tak benarnya di mata suami.
"Capek Mbak. Masio ganteng dan pendidikan tinggi, percuma kalau sama istri gak ngregani," curhat Karin saat berada di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya.
Karin menjelaskan, Donwori ini memang keterlaluan. Karin mengaku sering kena hujat suaminya. Alasannya macam-macam. Biasanya karena urusan yang remeh temeh. Misalnya saja saat Karin masak sesuatu yang tidak cocok dengan selera Donwori, dia pasti kena marah. Belum sempat mencuci karena ngurus anak, dimarahi. Bahkan membereskan barang Donwori yang selalu berserakan di mana-mana, juga dimarahi. "Dia kan suka brak-bruk, barangnya di mana-mana. Gitu tak rapikan, aku kena sempro. Katanya jadi bingung dia nyarinya," kata perempuan asal Kertajaya ini mengeluh.
Belum lagi urusan anak. Karin sampai heran sendiri. Anak juga anak dia, tapi Donwori sama sekali gak pernah mau ngurus. sekadar menggantikan menjaga ketika Karin sedang sibuk urusan rumah pun tidak. Di saat Karin kelabakan, Donwori tetap bergeming. Ia hanya asyik dengan hape dan remot TV-nya. Nanti, kalau anaknya rewel dan suaranya mengganggu ketenangannya, Donwori akan marah-marah.
Padahal dibandingkan Donwori, Karin ini sudah kerja ekstra. Sibuk mempersiapkan keperluan anak dan suami. Sepulang kerja ia masih harus sibuk mwlanjutkan pekerjaan rumah yang ditinggal seharian. Namun dasar Donwori tak peka, maunya enaknya saja.
Bahkan,  Donwori  sempat membuat Karin nangis nelangsa. Pernah suatu ketika anak Karin rewel saat tengah malam. "Kayaknya mau demam karena kecapekan itu," cerita Karin.
Meski ia berusaha berkali-kali mendiamkan, namun tetap saja si anak  rewel.  Merasa terganggu, Donwori melakukan tindakan anarkis. Bak di sinetron Indonesia yang kerap menunjukan adegan penyiksaan, Donwori mencengkeram kerah baju anaknya yang terus menangis dan meneriakinya agar mau diam.
"Bukannya makin diem, tapi anakku tambah banter nangise. Ketambahan aku yang nangis nelangsa," papar perempuan berkulit sawo matang ini.
Karin sampai heran dengan statusnya. Donwori ini melihatnya sebagai pembantu atau istri sih? Apa Donwori mengira anak mereka bukanlah anak kandungnya sampai sebegitu tega.
 Teriakan demi teriakan, sumpah serapah juga tak pernah absen menyapa Karin tiap hari. Hingga semakin hari mengikis rasa cinta dan hormat Karin pada suami sendiri. Katanya, daripada terus-terusan diinjak-injak sebagai istri, lebih baik berpisah saja. Toh dia seorang perempuan mandiri yang bisa cari duit sendiri.
" Aku sebenarnya gak pengen aneh-aneh. Dia perhatian, ngomongnya alus saja sudah bikin hati seneng. Bukannya caci maki begini," pungkasnya marah. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia