Sabtu, 15 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Pelanggar Lalin Didominasi Pelajar dan Mahasiswa

16 November 2018, 02: 32: 32 WIB | editor : Wijayanto

DOMINAN: Pelajar bermotor di jalan raya tanpa helm.

DOMINAN: Pelajar bermotor di jalan raya tanpa helm. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Pelajar dan Mahasiswa merupakan pelanggar yang paling banyak ditindak polisi selama Operasi Zebra Semeru 2018. Dari hasil analisa dan evaluasi (anev) program, Satlantas Polrestabes Surabaya mencatat terdapat 11,335 pelajar yang ditilang. Bahkan, dominasi pelanggar pelajar terus terjadi selama pelaksanaan operasi selama tiga tahun terakhir

Berdasarkan data tersebut, polisi menindak setidaknya 35,875 pelanggaran selama dua pekan atau pelaksaan operasi Zebra 2018. Dari jumlah tersebut sebanyak 11,335 pelanggar berasal dari pelajar. Kemudian sebanyak  10,322 pelanggar yang ditindak berasal dari kalangan karyawan atau swasta. 

"Sementara urutan ketiga ditempati oleh para PNS yakni mencapai 2,724 pelanggar. Selanjutnya sebanyak 2,459 pelangar berasal dari pengemudi roda empat. Sisanya lain-lain," ungkap Kasatlantas Polrestabes Surabaya, AKBP Eva Gunda Pandia, Kamis (15/11).

Pandia menyebutkan jumlah pelajar memang selalu mendominasi selama pelaksaan operasi zebra selama tiga tahun terakhir. Tahun 2016 jumlah pelajar yang dikenakan penilangan sebanyak 6,434 orang sedangkan pada tahun 2017 jumlahnya naik menjadi 9,203 pelajar. 

"Kebanyakan pelajar yang ditindak sering tak mengenakan helm, tak memiliki SIM dan juga melawan arus," terangnya. 

Dari data tersebut juga terungkap jika pelanggaran didominasi oleh pengendara roda dua. Jumlahnya mencapai 29,683 unit. Lalu pelanggaran lain yang juga tinggi juga dari mobil berpenumpang yakni mencapai 4,433 unit sisanya adalah mobil barang dan bus jumlahnya mencapai 1,759 unit.

"Sama halnya dengan palajar, pelanggaran yang melibatkan sepada motor juga selalu mendominasi setiap tahun. Hal ini wajar lantaran jumlah motor kian bertambah setiap tahunnya," terangya.

Kemudian data tersebut juga menguraikan jenis pelanggaran yang paling banyak dilanggar. Diantaranya adalah tak megenakan helm SNI sebanyak 2997 perkara. Kemudian melawan arus mencapai 945 pekara dan sebanyak 918 perkara yang ditindak adalah pengendara motor di bawah umur.

"Yang paling kami prioritaskan memang penindakan pengendara atau pengemudi. Sebab hal ini sangat berbahaya bagi mereka sendiri maupun orang lain," paparnya.

Dari data diatas, Pandia mengambil kesimpulan jika ketertiban dan keselamatan berlalu lintas di Surabaya belum menjadi sebuah kebutuhan. Mereka kerap kali tertib jika ketika ada polisi. Padahal baik dijaga polisi atau tidak seharusnya ketertiban menjadi hal yang fundamental. (yua/jay)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia