Minggu, 18 Nov 2018
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Ngakunya 23 Tahun Jadi Korban KDRT, Lha Kok Baru Minta Cerai Sekarang

Jumat, 09 Nov 2018 10:03 | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Bisa dibilang, Karin, 47, adalah istri tahan banting. Kurang tahan banting bagaimana coba kalau berpuluh-puluh tahun dijadikan sansak, namun tetap saja setia mendampingi suami yang kasar. Coba kalau istri zaman sekarang, dibentak dikit pasti sudah minta cerai.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Donwori, 49, duduk dengan santai sambil menyesap rokoknya di lorong ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya. Terdengar agak saru ya, ketika bis saja telah menyediakan smoking area, di fasilitas umum macam pengadilan, merokok sembarangan bukanlah suatu hal yang tabu.

Baik, kembali pada persoalan Donwori. Bapak anak dua ini harus rela digugat cerai istrinya di usia yang tak lagi muda. Apalagi alasannya kalau bukan pihak ketiga. Donwori menceritakan, cintanya kepada istri yang telah mendampinginya puluhan tahun kandas gara-gara Karin memilih pergi dengan pria lain. "Kalau mediasi terakhir ini gagal, alamat jadi duda aku,” katanya.

Donwori menjelaskan, Karin menggugatnya dengan alasan yang kurang bisa diterima. Aslinya ia kecantol langganan warungnya yang nauzubillah manis mulutnya. Suka menggoda maksudnya. Namun saat bercerai, ia mengajukan alasan KDRT. Alasan yang untuk kasus pasutri ini sedikit absurd.

KDRT memang tidak dibenarkan. Pun pelaku KDRT pasti mendapat kecaman dari banyak istri. Namun mengapa KDRT yang dimaksud Karin ini absurd? Alasannya tak lain tak bukan gara-gara KDRT itu sudah dialami Karin sepanjang 23 tahun pernikahan. Sejak penghulu berkata sah itulah, perjalanan KDRT dimulai sampai Karin mengajukan gugatan.

“Kalau memang gak tahan tak kasari, kenapa gak dari setahun dua tahun setelah nikah dulu minta cerai kan ?" lanjut Donwori dengan intonasi marah.

Donwori mengakui sendiri. Kalau marah, ia memang cenderung melampiaskan kemarahannya dengan memukul. Karena yang nyepak Karin, ya Karin lah yang jadi sasarannya. Sikap kasar ini, paparnya, sudah turun temurun dari zaman mbah dan bapaknya. Sehingga bagi Donwori, perbuatannya itu sah-sah saja. Toh rumah tangga mbah dan orang tuanya tidak ada yang kandas gara-gara KDRT. Terbukti Karin juga tetap setia kena pukul tiap hari.

Namun yang membuatnya kesal ya ini, alasan KDRT Karin bawa-bawa ke persidangan. Ia bahkan banyak bersumpah di hadapan hakim tak mau meneruskan lagi pernikahannya dengan Donwori. Takut mati, katanya.

Padahal, sedrama apapun alasan Karin, ia sudah tahu alasan gugatan sebenarnya. Ia tahu Karin ada main dengan lelaki. Laki-laki duda yang tiap hari main ke warungnya. Hanya saja ia tidak menyangka kalau Karin senekat ini minta cerai demi PIL-nya ini.

"Sebenarnya aku mukul dia itu juga ada alasannya. Coba kalau dia gak genit, aku bisa anteng. Lha dia kalau di warung dandan menor megal -megol nak ngarep wong lanang-lanang, sopo bojo sing gak semremet,” pungkasnya membela diri. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia