Minggu, 18 Nov 2018
radarsurabaya
icon featured
Gresik
Pendidikan Inklusi untuk Teman Sebaya

Berdiskusi hingga Ajak ABK Buat Kerajinan Tangan

Kamis, 08 Nov 2018 16:47 | editor : Wijayanto

PEDULI: Siswa-siswa kini mulai peduli dengan teman sebayanya yang berkebutuhan khusus. Mereka belajar bersama sambil bercanda.

PEDULI: Siswa-siswa kini mulai peduli dengan teman sebayanya yang berkebutuhan khusus. Mereka belajar bersama sambil bercanda. (HANY AKASA/RADAR GRESIK)

Pendidikan inklusi di Kabupaten Gresik terus berkembang. Tidak hanya penguatan dari UPT Resource Centre Dinas Pendidikan (Dispendik) Gresik, namun juga aplikasi pendidikan inklusi di sekolah. Guru maupun siswa mulai memahami dan menerapkan kepada pendidikan inklusi.

Hany Akasah-Wartawan Radar Gresik

Aplikasi pendidikan inklusi terlihat sat 18 siswa kelas passion psikologi SMA Muhammadiyah 1 Gresik berkunjung dan menjadi tutor sebaya bersama anak berkebutuhan khusus (ABK) tunarungu di Sekolah Luar Biasa (SLB) AB Kumala Bhayangkari 2 Gresik.

Guru Bimbingan dan Konseling (BK) Farida Hanum mengatakan tutor sebaya adalah pengaplikasian materi pelajaran yang telah didapatkan saat belajar. “Saya ingin anak-anak bisa mempraktikan materi tentang ABK yang selama belajar di kelas,” kata Farida.

Kepala SLB AB Kemala Bhayangkari 2 Gresik Siti Fatimah mengatakan anak-anak SLB ini juga seperti anak-anak yang lain. Mereka bisa sekolah dan kuliah di tempat umum, serta bisa berprestasi.

“Alhamdulillaah, walaupun anak-anak kami ada kekurangan, sebenarnya mereka itu sama dengan kita semua. Mereka juga punya kelebihan. Jadi mereka tidak perlu dikasihani, mereka hanya butuh diakui,” tegasnya.

Dalam kegiatan itu, siswa-siswi kelas passion psikologi mengeluarkan barang-barang  yang sudah mereka siapkan dari rumah, seperti koran bekas, gelas plastik, kaleng, toples, sedotan, kain flannel, gunting, dan lem.

Mereka mengajak siswa-siswi SLB AB Kemala Bhayangkari 2 Gresik untuk membuat kerajinan tangan dari barang-barang tersebut, seperti celengan hias, topi, tempat kue, dan tempat minum.

Mereka sangat menikmati kegiatan tersebut. Semuanya berjalan lancar, meskipun ada kendala komunikasi. Kadang mereka menggunakan bahasa isyarat, kadang dengan menulis di kertas.

“Awalnya saya sangat kesulitan untuk menjelaskan kepada mereka tentang kegiatan ini. Tapi setelah saya coba dengan berbagai cara, seperti bahasa isyarat dan lewat tulisan, akhirnya semuanya berjalan lancar,” ungkap Aulia Rahma Putri Sabrina Gisbi, siswa kelas XI MIPA. “Mereka bisa mengerjakannya dengan cepat dan lebih bagus lho.”

Siswi kelas XII SLB AB Kemala Bhayangkari 2 Gresik mengaku senang bertemu dengan rekan sebayanya. “Sekarang saya menjadi lebih PD (percaya diri) dan suatu saat saya juga ingin bermain di SMA Muhammadiyah 1 Gresik bersama teman-teman,” jelas dia. (*)

(sb/han/jay/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia