Senin, 10 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Bahan Baku Melimpah Dorong Perhiasan Tingkatkan Daya Saing

06 November 2018, 06: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

DIMINATI: Pengunjung melihat produk perhiasan dan emas saat pameran perhiasan d Hotel Shangrila beberapa waktu lalu.

DIMINATI: Pengunjung melihat produk perhiasan dan emas saat pameran perhiasan d Hotel Shangrila beberapa waktu lalu. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Potensi pengembangan sektor industri perhiasan di tanah air, termasuk Jawa Timur cukup besar. Hal ini didukung dengan sumber bahan baku dari industri tersebut telah melimpah di Indonesia. Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (Apepi) agresif mendorong industri perhiasan untuk meningkatkan daya saingnya, baik di dalam negeri maupun luar negeri. 

Sekjen Apepi Iskandar Husein menuturkan, peningkatan tersebut juga didukung dengan teknik pembuatan perhiasan Indonesia yang sangat diminati di dunia, karena menonjol dari sisi pembuatannya. Yakni menggunakan teknik handmade dan memiliki unsur budaya. 

"Hal itu tentu menjadi nilai tambah. Karena berbeda dengan produk perhiasan luar negeri yang dibuat oleh mesin, sehingga kurang memiliki nilai estetika," terangnya di Surabaya, Senin (5/11).

Namun menurut Iskandar, perhiasan di Indonesia yang paling banyak diproduksi saat ini adalah emas tanpa batu-batuan. Belum banyak yang mengkombinasikan dengan berbagai jenis ornamen tersebut. Padahal, jenis batu-batuan di tanah air yang bisa digunakan cukup banyak. Oleh karena itu, pihaknya ingin mendorong pelaku industri ini mau mengembangkan kreasi perhiasan dengan berbagai jenis bebatuan yang ada.

"Jangan kalah dengan negara lain. Batu-batuan untuk perhiasan di beberapa negara yang memiliki kualitas tidak sebagus Indonesia malah lebih mahal harganya," ungkapnya.

Iskandar mengaku, pihaknya berharap dengan adanya kreativitas seperti itu dapat meningkatkan daya saing perhiasan dalam negeri. "Produk emas Indonesia ini sebenarnya sudah mampu masuk kelas dunia, hanya tinggal bagaimana memasarkan dan mengkreasikannya," imbuh Iskandar.

Selain untuk meningkatkan daya saing, Apepi juga terus berupaya membantu pertumbuhan omzet industri emas di Jatim. Sebab, jika industri emas yang notabene sebagai industri padat karya itu bisa bertumbuh pesat, maka otomatis akan berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan data dari Pemprov Jatim, pelaku IKM di bidang perhiasan sejak tahun 2008 hingga sekarang sudah tumbuh 300 persen. 

"Itu artinya telah banyak tumbuh enterpreneur baru di industri perhiasan emas ini," kata Iskandar.

Sampai akhir tahun 2018, industri perhiasan di Jatim diproyeksikan mampu tumbuh hingga double digitdibanding tahun lalu. Beberapa daerah yang berpotensi dalam pengembangan industri perhiasan dan aksesoris antara lain Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Lamongan, Pasuruan, Lumajang dan Pacitan.

Mengutip data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, pada September 2018 tercatat perhiasan/permata menjadi komoditas ekspor non migas utama Jatim dengan nilai transaksi sebesar USD 193,88 juta atau menyumbang 12,83 persen dari total ekspor non migas. Komoditas tersebut sudah dikirim ke berbagai negara. Seperti Jepang, Amerika Serikat, Swiss, dan negara-negara Asean serta Tiongkok. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia