Sabtu, 20 Oct 2018
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Peras Pengusaha, Lima Preman Jadi Pesakitan

Selasa, 02 Oct 2018 15:31 | editor : Wijayanto

JALANI SIDANG: Para terdakwa saat mendengarkan dakwaan di Pengadilan Negeri Surabaya.

JALANI SIDANG: Para terdakwa saat mendengarkan dakwaan di Pengadilan Negeri Surabaya. (Yuan Abadi/Radar Surabaya)

SURABAYA - Komplotan preman yang kerap memeras pengusaha dengan dalih jasa pengawalan dan keamanan kini kena batunya. Mereka dilaporkan ke polisi dan harus menjalani persidangan perdana di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (1/10).

Ke lima pelaku sebelumnnya ditangkap Tim Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim. Dalam setiap aksinya, preman dibawah pimpinan Imam Sakram ini mengancam pengusaha akan menganggu proses pengiriman barang jika tak mau membayar sejumlah uang.

Kelima terdakwa tersebut ialah, Imam Safii, 41, warga Jalan Kemantren Rejo RT 06/RW 02, Pasuruan, Bambang Suherman,47, warga Tengger RT 01 RW 07, Desa Kenongo, Mojokerto, Hariyono,47, dan Sadir, 56, warga Tlogo RT 02 /RW 01, Desa Sidokerto, Buduran, Sidorajo. Sedangkan terdakwa terakhir adalah, Dwi Wahyu Wijaksono.  

Dalam dakwaanya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Putu Sudarsana menyatakan jika kelima terdakwa merupakan kelompok pengawalan atau keamanan ilegal jalanan dengan nama Sakram SB. Dalam aksinya kelompok ini memilih sasaran berupa perusahaan jasa transportasi dan jasa pengiriman barang. Salah satu yang menjadi sasaran adalah PT Indah Logistik yang berkantor di Jalan Kenjeran nomor 464, Surabaya.

“Kebetulan perusahaan ini biasa mengirimkan barang dan dokumen di sejumlah wilayah seperti Sidoarjo, Tuban, Probolinggo, Pasuruan dan Malang,” ungkap JPU Sudarsana.

Kemudian setelah mempelajari rute pengiriman milik PT Indah Logistik, komplotan Sakram SB beraksi dengan cara menghentikan sopir-sopir milik perusahaan. Mereka pun menjelaskan jika Sakram SB merupakan pengamanan jalan yang dilewati oleh sopir perusahaan.

Mereka mengancam jika ingin tak mau diganggu, maka perusahaan harus memberikan uang kepada mereka. Komplotan ini juga mengancam akan menghajar sopir jika tak mau memberikan uang.

Tak hanya itu, kunci, dan dokumen kendaraan juga diambil oleh para terdakwa dengan paksa. “Barang itu tak akan dikembalikan, sebelum para sopir memberikan uang yang mereka minta,” terangnya.

Menurut Sudarsana selama 2018, para terdakwa sudah meminta uang setoran keamaan kepada PT Indah Logistik sebanyak 4 kali. Jumlahnya sekitar Rp 100 hingga Rp 200 ribu. Setelah itu, kelima terdakwa mencoba menghubungi pihak perusahaan.

Kemudian mereka mengajak untuk bertemu di Sidoarjo. Setelah itu, pertemuan dengan para terdakwa dan pihak perusahaan disepakati.

“Dalam pertemuan itu, para terdakwa meminta jatah Rp 7 juta untuk empat bulan sekali. Karena terlalu mahal, perusahaan memberikan uang Rp 5 juta,” terangnya.

Setelah itu, para pelaku memberikan stiker yang bertuliskan Sakram. Stiker itu dibagikan kepada sejumlah sopir PT Indah Logistik untuk ditempel dimobil sebagai tanda jika mereka dalam pengawasan kelompok preman ini. Kerjasama tersebut berjalan selama setahun. Namun setelah itu, para terdakwa meminta kenaikan upeti.

“Yang awalnya Rp 5 juta menjadi Rp 7 Juta. Setelah berjalan beberapa bulan, akhirnya korban melaporkan perkara ini ke Mapolda Jatim sebelum akhirnya pelaku ditangkap,” tegasnya.

Kelima terdakwa kini dijerat dengan pasal 368 ayat 1 KUHP jo pasal 55 ayat 1 jo pasal 64 ayat 1 KUHP tentang upaya pengancaman. Menanggapi dakwaan itu, kuasa hukum tiga dari lima terdakwa Dian Sugeng Utomo menolak dakwaan itu. “Para terdakwa ini dipekerjakan oleh pihak perusahaan, mereka yang menemani sopir ketika mogok atau terjadi kendala lain. Jadi tak pernah ada paksaan,” ungkapnya. (yua/rud)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia