Sabtu, 20 Oct 2018
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Tengah Malam Kabur dari Siksaan Suami

Jumat, 21 Sep 2018 19:15 | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

"Lihatlah tanda merah di pipi, bekas gambar tanganmu. Sering kau lakukan, bila kau marah menutupi salahmu. Pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku." Lagu sepanjang masa yang dinyanyikan Betharia Sonata ini benar-benar Karin, 28, banget. Bedanya, ia tak dipulangkan, tapi mencari jalan pulang sendiri. Demi keselamatan dan harga diri.

Ismaul Choiiyah-Wartawan Radar Surabaya

Kadang kita gemas sendiri menyaksikan tokoh protagonis dalam sinetron yang begitu lelet saat berusaha kabur dari siksaan.  Sembari menonton, bak komentator, kita sering nggremeng. "Aduh kenapa harus lewat situ sih. Lak ketangkep nanti." Atau, "Duh lelet banget, keburu ketahuan."

Padahal nyatanya, kita tak pernah tahu kesulitan yang dialami si protagonis itu. Di antara rasa ingin cepat-cepat kabur, ada rasa bingung dan gelisah yang membuatnya kadang salah mengambil langkah.
Kesaksian ini disampaikan oleh Karin. Benar, bak dalam sinetron, ia pernah melakukan sebuah drama.

Dimana ia harus kabur lewat tengah malam gara-gara tokoh antagonis dalam rumah tangganya, yang tak lain tak bukan adalah suaminya sendiri. “Sekarang aku ngerti kenapa di sinetron itu mereka memang lelet. Iki memang gara-gara pikiran sama hati kita kalut, bingung mau ngapain,” katanya saat berada di ruang konsultasi pengacara dekat Pengadilan Agama (PA)  Klas 1A Surabaya.

Karin menceritakan, perpisahannya dengan suaminya harus melalui drama yang memilukan. Tak tahu kalau suaminya seorang temperamen yang suka main tangan, Karin menikahi Donwori dua tahun lalu. Selama pacaran, kekasihnya ini sama sekali tak menunjukkan sikap kasarnya. Namun setelah menikah, si Don ini obah sak obah mukul.

Karin menjelaskan, satu hari terlewat tanpa siksaan suami adalah sebuah kemustahilan. Bisa dikatakan, Donwori ini begitu terobsesi untuk menyiksa istrinya. Sikap kasar suaminya ini tentu saja mengukir luka yang mendalam pada Karin. Setiap hari bersama, ia tak bahagia. Namun di lain sisi, Katin juga bingung mengakhirinya. “Orang hamil ya kan biasa mual-mual, tapi dia akan marah kalau sampai aku mau mual.

Pernah suatu ketika kita boncengan motoran. Posisi aku hamil gede. Gara-gara aku pengen berhenti untuk muntah, dia marah. Sengaja nibakne motore,” cerita Karin mengingat luka lama.

Karena tak lagi tahan, Karin memutuskan untuk kabur dari rumah suaminya. Pada tengah malam di hari Rabu, Karin nekat menggendong bayinya yang terlelap, ke jalan raya. Ia menunggu suasana lenggang, berjinjit-jinjit berusaha tak menimbulkan suara dan keluar dari rumah.

Karin bercerita, meski begitu ia sempat bolak-balik dapur ruang tamu karena bingung sendiri. “Aku kalut, Mbak. Pokok yok opo carane iso metu. Alhamdulillah anakku dari awal gak rewel. Padahal biasae rewel ae. Paling wis ditulungi karo sing kuwoso,” imbuh perempuan asal Rungkut  ini.

Setelah berhasil keluar dari rumah, ia lari ke jalan raya. Melihat ada mobil yang sedang terparkir dan penghuninya perempuan, Karin langsung nyelonong masuk meminta bantuan. Rupanya mobil itu milik PSK yang sedang menjajakan diri. "Terlihat dari dandanannya yang seksi bin menor," kata Karin.

Mengetahui Karin yang tiba-tiba nyelonong, si mbak-mbak PSK itu langsung marah. Meski Karin memohon-mohon untuk diantarkan ke rumah orang tuanya di Surabaya, ia tak dipercaya. Dan buru-buru  diusir dari mobil.

Karena takut terkejar, ia pun segera keluar. Lalu bersembunyi di antara truk-truk besar yang diparkir berjajar di tepi jalan. Lama ia bersembunyi di sana, sekitar setengah jam. Setelah memastikan keadaan aman, Karin kemudian memutuskan untuk mencegat pengendara yang lewat. Tentu saja, banyak yang mengabaikan. Mungkin curiga. “Iku aku posisi gawe daster. Tapi tak sengojo gak gawe sing putih biar gak disangka hantu,” urainya mengenang.

Lama menunggu, akhirnya seorang bapak-bapak pengendara motor  menghampirinya. Tentu setelah ia panggil. Karin menceritakan, si bapak sempat menunjukan raut curiga kepadanya. Setelah acara interogasi singkat di jalan, si bapak kemudian mengantarkan Karin ke pemberhentian angkot. Si bapak rupanya belum begitu yakin untuk mau mengantarkan Karin sampai ke kediamannya.

Dalam angkot, Karin masih jadi tontonan. Seisi  angkot mencurigainya gara-gara ia diantar  laki-laki tengah malam, dan ditinggalkan sendiri.  Bawa bayi pula. Ia pun terpaksa membuka 'konferensi pers' dadakan. Terenyuh mendengar cerita Karin, si bapak angkot ini pun akhirnya rela mengantar Karin hingga di depan rumah.

Siksaan demi siksaan menimbulkan trauma yang sangat mendalam bagi Karin. Berkali-kali suaminya memintanya kembali, berkali-kali itu pula Karin menolak. Ia sudah kapok, takut mati kalau terus bersama Donwori. “Dia gak mau ngurus cerai, gak papa. Aku iso ngurus dewe,” katanya, masih dengan luka yang begitu mendalam. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia