Rabu, 26 Sep 2018
radarsurabaya
icon featured
Surabaya
Baristand Surabaya Gelar Senristi 2018

Penerapan Industri 4.0 Perlu Persiapkan SDM dan Infrastruktur Digital

Kamis, 13 Sep 2018 13:01 | editor : Wijayanto

KEYNOTE SPEAKER: Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Kementerian Perindustrian, Dr. Ir. Ngakan Timur Antara.

KEYNOTE SPEAKER: Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Kementerian Perindustrian, Dr. Ir. Ngakan Timur Antara. (Suryanto/Radar Surabaya)

SURABAYA - Untuk penerapan industri 4.0, perlu melakukan tiga langkah. Mulai dari menyosialisasikan penerapan industri 4.0 yang menjadi agenda nasional, serta menyiapkan sumberdaya manusia (SDM) dan infrastruktur digital.
“Kuncinya industri 4.0 itu SDM, disamping teknologi. Berikutnya mempersiapkan infrastruktur digital. Bagaimana pun industri 4.0 itu sangat kental dijadikan conectivity. Maka dari itu, ketiga hal itu harus dipersiapkan dengan baik, sehingga ketika kita menerapkan industri 4.0, semuanya bisa berjalan sesuai rencana,” ujar Dr. Ir. Ngakan Timur Antara, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Kementerian Perindustrian yang menjadi keynote speaker dalam Seminar Nasional Riset dan Inovasi Teknologi Industri (Senristi) 2018 dengan tema Peran Teknologi dan Inovasi dalam Mendukung Daya Saing Industri Elektronika Telematika yang Berwawasan Lingkungan.

NARASUMBER: Prof. Dr. Moh Ashari,  Rektor Telkom University, dan Guru Besar Teknik Elektro ITS (kiri) serta Ir Mukhlis Bahrainy, CEO Pachira Group (kanan) pada Seminar Nasional Riset dan Inovasi Teknologi Industri (Senristi) 2018.

NARASUMBER: Prof. Dr. Moh Ashari, Rektor Telkom University, dan Guru Besar Teknik Elektro ITS (kiri) serta Ir Mukhlis Bahrainy, CEO Pachira Group (kanan) pada Seminar Nasional Riset dan Inovasi Teknologi Industri (Senristi) 2018. (Suryanto/Radar Surabaya)

Kegiatan seminar yang diadakan oleh Balai Riset dan Standarisasi (Baristand) Industri Surabaya ini berlangsung di Hotel Novotel Samator Surabaya, Rabu (12/9). Narasumber lainnya, Prof. Dr. Moh Ashari, Rektor Telkom University, dan Guru Besar Teknik Elektro ITS, serta Ir Mukhlis Bahrainy, CEO Pachira Group.
Era revolusi industri 4.0 ini dimulai 2011 dengan menciptakan dunia di mana sistem virtual dan fisik manufaktur dapat bekerja sama dengan global dengan sistem lebih fleksibel. Kementerian Perindustrian telah menyiapkan roadmap revolusi industri 4.0 hingga 2030 dan mulai disosialisasikan 2018. Roadmap menitikberatkan dukungan pada industri makanan dan minuman, tekstil, busana, kimia, otomotif dan elektronik.
Ngakan Timur Antara menambahkan, pihaknya berkeinginan untuk memberikan reward bagi industri yang siap menerapkan industri 4.0. Namun, harus ada payung hukumnya. “Kalau ini (penerapan industri 4.0, Red) sudah menjadi agenda nasional, seluruh kementerian, lembaga harus bergabung menjadi satu,” katanya.

MoU: Dari kiri; Osa Sebastian dari P3TEK ESDM, dan Kepala Baristand Surabaya Ir Siti Romlah Siregar MM.

MoU: Dari kiri; Osa Sebastian dari P3TEK ESDM, dan Kepala Baristand Surabaya Ir Siti Romlah Siregar MM. (Suryanto/Radar Surabaya)

Menurutnya mereka yang menerapkan industri 4.0 membutuhkan investasi karena ada transformasi teknologi yang ada sekarang ke teknologi digital. Di Taiwan, pemerintah membantu 40 persen-50 persen pembiayaan transformasi teknologi tersebut. “Di Indonesia belum menetapkan itu, tetapi insentif di bidang inovasi teknologi sudah ada. Dan itu perlu kita implementasikan dalam bentuk riil,” ujarnya.
Lebih lanjut Ngakan menjelaskan, insentif yang diusulkan berupa pengurangan pajak penghasilan, sebanyak investasi yang dikeluarkan. “Misalkan melakukan investasi vokasi pendidikan terapan sebanyak 100, kita usulkan ke pemerintah supaya dikembalikan dua kalinya, yakni 200. Tapi itu tidak dalam setahun, mungkin lima tahun atau sepuluh tahun, dicicil” rincinya.
Dikatakan, insentif berupa potongan pajak penghasilan ini sudah diusulkan oleh Kementerian Perindustrian, namun Kementerian Keuangan belum menetapkan kepastian. Hasil diskusi terakhir, diperkirakan reward-nya 100 persen.
Para pelaku industri perlu didorong untuk menerapkan industri 4.0 karena akan terjadi efisiensi, dan peningkatan produktivitas, sehingga cost per produk akan turun. Dampaknya bisa meningkatkan daya saing pelaku industri. “Dari pengalaman industri yang menerapkan industri 4.0, efisiensinya sangat tinggi antara 20 persen-30 persen. Ini tergantung dari sektornya apa elektronik, makanan minuman, apa otomotif,” ujarnya.

TANDA TANGAN: Dari kanan: Kepala Baristand Surabaya Ir Siti Romlah Siregar MM, , Dr. Ir. Ngakan Timur Antara,  Kaur Renbang PTPN X Fajar Priyambada.

TANDA TANGAN: Dari kanan: Kepala Baristand Surabaya Ir Siti Romlah Siregar MM, , Dr. Ir. Ngakan Timur Antara, Kaur Renbang PTPN X Fajar Priyambada. (Suryanto/Radar Surabaya)

Ngakan menegaskan, masyarakat tak perlu khawatir penerapan industri 4.0 akan mengurangi tenaga kerja. Tetapi justru sebaliknya, bila anak-anak muda dipersiapkan dengan meningkatkan ketrampilannya, justru penerapan industri 4.0 ini akan memberi peluang lebih besar dalam menyerap tenaga kerja. “Mereka tidak perlu kerja ke kantoran, ke mana-mana, dengan menjadi ahli desain mereka bisa bekerja di rumahnya sendiri. Dengan dilengkapi peralatan komputer, mereka bisa mendesain, desainnya bisa dijual. Bisa menghasilkan produk di tempat yang tak perlu besar, sehingga akan terjadi mass customize production. Jadi mereka bisa menghasil produk banyak sesuai pesanan dan sedikit sesuai selera masyarakat. Inilah yang akan membentuk kantong-kantong kerja yang baru,” paparnya.
Terkait persiapan penerapan industri 4.0 terhadap industri kecil menengah (IKM), menurut Ngakan, Kementerian Perindustrian  telah melatih ketrampilan agar bisa  memanfaatkan market place yang ada. Selain itu, diharapkan IKM berkomitmen menghasilkan produk yang mutunya bagus, dan siap dipasarkan di dalam negeri maupun luar negeri. “Setiap tahun Kementerian Perindustrian memberikan pelatihan terhadap lebih dari 1.000 orang UMKM soal online, memanfaatkan market place menjual produk mereka, bagaimana mengemas produk supaya cantik, bagaimana standar di negara tujuan ekspor. Lewat pelatihan ini, supaya mereka siap menembus pasar ekspor dan dalam negeri,” jelasnya.

JABAT TANGAN: Dari kiri: Ari Wahyu Hidayat, Senior Coordinator PT Yamaha Electronics Manufacturing Indonesia, Dr. Ir. Ngakan Timur Antara, dan Kepala Baristand Surabaya Ir Siti Romlah Siregar MM.

JABAT TANGAN: Dari kiri: Ari Wahyu Hidayat, Senior Coordinator PT Yamaha Electronics Manufacturing Indonesia, Dr. Ir. Ngakan Timur Antara, dan Kepala Baristand Surabaya Ir Siti Romlah Siregar MM. (Suryanto/Radar Surabaya)

Sebelum seminar dimulai didahului dengan penandatangan memorandum of understanding (MoU) antara Baristand Surabaya dengan PTPN X, Yamaha Electronics Manufacturing Indonesia, dan Kementerian ESDM.
Kepala Balai Riset dan Standarisasi Industri (Baristand) Surabaya Ir Siti Romlah Siregar MM menambahkan, sebenarnya Industri 4.0, Baristand Surabaya sudah menerapkan sejak lama. Karena untuk tupoksi riset dan standarisasi, utamanya untuk jasa pelayanan teknis ke dunia industri itu sudah menggunakan teknologi informasi. Seperti penerimaan sample uji sudah langsung masuk ke sistem informasi laboratorium. “Bahkan sistem informasi kami itu sudah menerima penghargaan dari Kementerian PAN dan RB dalam hal Top Inovasi 99,” ujarnya. (no/nur)

(sb/no/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia