Rabu, 26 Sep 2018
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Angin Kencang, Tangkapan Nelayan Kenjeran Minim

Sabtu, 08 Sep 2018 12:59 | editor : Wijayanto

SURUT: Musim tak bersahabat sejumlah nelayan tak melaut, tampak banyak perahu bersandar.

SURUT: Musim tak bersahabat sejumlah nelayan tak melaut, tampak banyak perahu bersandar. (GARTA DHARMAWAN/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Para nelayan di Kenjeran mengeluh karena hasil tangkapan ikan minim. Masalahnya kini musimnya yang tidak bersahabat. Karena angin kencang dan ombak tinggi.

Kalau sedang ramai hasil tangkapan ikannya menembus angka 10 kilogram (kg). Tetapi ketika musim tidak baik maka tangkapan anjlok. “Beberapa hari ini hanya dapat 2kg-4kg, tapi terkadang juga tidak dapat hasil,” keluh Somat.

Somat sudah menjadi nelayan lebih dari 15 tahun. Buruan utamanya yaitu ikan kacang-kacang. Setiap bulan Juli sampai September awal, hasil tangkapannya selalu minim. “Bila September akhir, ikan besar mulai datang. Contohnya ikan tuna,” ujarnya.

Untuk mencari ikan ini, Somat menggunakan kapal berukuran 7,5 meter (m) panjang dan lebar 2,5 m. Sekali berangkat bahan bakar yang dibutuhkan sekitar 4-5 liter.

“Kalau sekali berangkat dapat satu atau dua kilo, masih lumayan. Karena kan harga jual ikan (kacang-kacang, Red) itu Rp 50 ribu per kilo. Terus dipotong biaya berangkat, belum keperluan sehari-hari” ujarnya (7/9).

Komoditi nelayan di kenjeran sendiri terbagi dua,kerang dan ikan. Perahu yang khusus untuk mencari kerang, terdapat kompressor di bagian tengah kapal. Benda tersebut berguna untuk menyalurkan oksigen. Panjang selang yang digunakan pun bervariasi tergantung kebutuhan.

Salah satu nelayan kerang, Gofur mengatakan ketika sedang mencari kerang harus menyelam ke dasar laut sekitar satu jam. Selain itu, dia menggunakan alat pemberat seperti sabuk, yang diikat ke bagian pinggang. Benda pemberat tersebut membuat dia berada di dasar laut. “Nah ini (sabuk pemberat, Red) beratnya minimal 10 kg.”

Keadaan nelayan kerang pun tidak jauh beda. Pada bulan Agustus ini, dirinya mengatakan maksimal buruannya dihargai Rp 150 ribu. Nominal tersebut berasal dari berbagai jenis kerang, seperti skalep dan kijing. Kerang campuran dihargai Rp 5 ribu per kuintalnya. “Saya pernah beruntung mendapat setengah ton kerang,” ujarnya.

Hasil laut tidak dapat diprediksi. Terkadang  meskipun sedang musim bagus, hasil buruannya tak maksimal. Hal tersebut dikarenakan mayoritas nelayan tidak melakukan budidaya. “Kita (nelayan, Red) kan tidak melakukan penangkaran, jadi apapun hasilnya kita syukuri” ujarnya Gofur.

Nelayan lainnya, Sugianto juga mengatakan ketika tangkapan menurun, dia  banting setir, perahunya difungsikan melayani wisatawan keliling laut. “Sebenarnya gini ini (jasa keliling, Red) tidak membantu banyak, soalnya pengunjung yang datang tidak terlalu banyak” ujarnya, Senin (03/10).

Sugianto mengatakan bahwa komoditas nelayan Kenjeran adalah udang. Tetapi kalau keadaan seperti ini, apapun yang didapatkan sudah disyukuri. Karena air yang tak kunjung pasang, dirinya sengaja menunggu di pinggir pantai. “Kalau air surut, sedikit hasilnya (tangkapan, Red)” ujarnya.

Terakhir melaut, dirinya hanya mendapatkan 3 ekor ikan bulu ayam. Padahal harga jual mentahnya Rp 3.500 per kilo. Selama kurang lebih 15 tahun Sugianto menjadi nelayan, keadaan seperti ini dianggap wajar. Menurutnya keadaan akan bisa diharapkan ketika bulan September. “Nanti di bulan 10 akan ada angin laut. Nah kedatangannya itu meskipun cuma 10-30 menit. Tapi sangat membantu nelayan” ujarnya.

Sugianto mengatakan kesulitan mencari hasil laut, tidak berimbas pada harga jualnya. Dirinya mencontohkan harga udang tetap Rp 35-40 ribu. Terkait hal itu, dirinya mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak mampu berbuat apa-apa selain menerima. “Ya namanya permainan pasar, orang seperti saya (nelayan) bisa apa” tuturnya. Dirinya mengatakan bahwa momen seperti ini membuatnya ‘puasa’. Tidak hanya bagi nelayan tetapi juga penyewa kapal di Kenjeran. (tra/no)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia