Selasa, 16 Oct 2018
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya
Diduga Korupsi Dana Bergulir Rp 543 Juta

Bendahara dan Sekretaris KSU Mitra Lestari Ditahan

Jumat, 10 Aug 2018 10:00 | editor : Abdul Rozack

Bendahara dan Sekretaris KSU Mitra Lestari Ditahan

Bendahara dan Sekretaris KSU Mitra Lestari Ditahan (ISTIMEWA)

SURABAYA - Dua pengurus Koperasi Serba Usaha (KSU) Mitra Lestari Surabaya ditahan penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya, Rabu malam (8/8). Mereka adalah Johanes warga Darmo Permai dan Pawitro Tjoedoko, warga Driyorejo Gresik. Bendahara dan sekretaris itu ditahan karena diduga terlibat dalam kasus korupsi dan bergulir senilai Rp 543 juta. 

Penahan terhadap Johanes dan Pawitro dilakukan setelah penyidik pidana khusus (pidsus) Kejari Surabaya melakukan pemeriksaan terhadap keduanya. Setelah dicecar sejumlah pertanyaan, penyidik menduga kuat jika keduanya terlibat dalam korupsi dana penyaluran ke UMKM itu. Setelah itu, penyidik memutuskan menahan mereka.  

“Benar. Mereka ditahan di Cabang Rumah Tahanan (Rutan) Negara Kelas I Surabaya di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim untuk 20 hari ke depan,” ungkap Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel) Kejari Surabaya, I Ketut Kasna Dedi dikonfirmasi Kamis (9/8).

Kasna menjelaskan, penetapan Johanes dan Pawirto sebagai tersangka adalah pengembangan dari hasil penyidikan kasus ini. Dari pengembangan itu, penyidik menemukan dua nama lagi yang bertanggungjawab atas kasus  dugaan korupsi itu. Setelah cukup bukti, keduanya ditetapkan sebagai tersangka dan dilakukan penahanan.

“Sebelumnya kami sudah menanhan dua tersngka lain, mereka adalah Kun Hidayat Imam, ketua koperasi dan Sutikno Tjoedoko, yang menjabat sebagai manager. Dari dua tersangka yang inilah nama Johanes dan Pawirto muncul,” papar Kasna. 

Dalam kasus ini, penyidik Kejari Surabaya telah menetapkan dan menahan empat orang tersangka. Kasna mengatakan, pihaknya akan terus mengusut kasus ini untuk mencari tersangka lain. 

Seperti yang diberitakan sebelumnya, dugaan korupsi ini terjadi pada 10 Desember 2012. Saat itu KSU Mitra Lestari memohon kepada LPDB-KUMKM untuk mendapatkan pinjaman dana bergulir sebesar Rp 1,5 miliar. Pengajuan ini ditandatangani oleh tersangka Kun Hidayat Imam selaku ketua KSU. Setelah proses verifikasi, LPDB-KUMKM menyetujui dan memberikan pinjaman sebesar Rp 1 miliar kepada KSU Mitra Lestari.

Dana pinjaman tersebut tujuannya disalurkan kepada 24 orang anggota atau nasabah KSU Mitra Lestari. Pada 26 Maret 2013 pinjaman dana begulir LPDB-KUMKM tersebut dicairkan ke rekening KSU Mitra Lestari di BCA KCP Tandes oleh tersangka Johanes. Kemudian pinjaman dana bergulir tersebut diserahkan kepada tersangka Sutikno Tjoedoko untuk disalurkan.

Namun oleh para tersangka dana pinjaman tersebut tidak disalurkan kepada 24 orang anggota atau nasabah KSU Mitra Lestari sesuai rencana definitif. Melainkan hanya diberikan kepada 5 orang nasabah. Sedangkan 19 orang nasabah lainnya tidak pernah menerima dan tidak mengetahui adanya pinjaman dana bergulir itu. 

Dari penyidikan ini, uang tersebut oleh para pengurus KSU Mitra Lestari diigunakan tidak sesuai dengan peruntukannya dan digunakan untuk keperluan lain yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan pada 2014 dana pinjaman tersebut tidak bisa dikembalikan karena macet. Akhirnya dinyatakan macet oleh LPDB-KUMKM dengan sisa tunggakan pinjaman sebesar Rp 543.776.666 atau Rp 543 juta.

Keempat tersangka dipersangkakan Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 UU No 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU No 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal 55 ayat (1) KUHP.(yua/no)

(sb/yua/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia