Selasa, 16 Oct 2018
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Dapat Kiriman dari Lapas, Mahasiswa Edarkan Sabu

Kamis, 09 Aug 2018 16:34 | editor : Wijayanto

DIAMANKAN: Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Rudi Setiawan (dua dari kanan) menunjukkan Galih Cahyadi (kaos merah) dan barang bukti SS, timbangan dan HP di Mapolrestabes Surabaya.

DIAMANKAN: Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Rudi Setiawan (dua dari kanan) menunjukkan Galih Cahyadi (kaos merah) dan barang bukti SS, timbangan dan HP di Mapolrestabes Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Jaringan narkoba yang dikendalikan narapidana (napi) dari lembaga pemasyarakatan (lapas) kini menembus kampus. Salah satu pengedar, kurir sekaligus pemakainya adalah Galih Cahyadi,24, mahasiswa salah satu universitas terkemuka di Surabaya Selatan. Pemuda asal Jalan Teuku Imar Nomor 31, Medaeng, Waru Sidoarjo ini, kini ngekos di Jalan Siwalankerto nomor 68, Surabaya.

Penangkapan Galih dilakukan anggota Polsek Wonokromo pada Sabtu (4/8). Saat itu, polisi tengah melakukan penyisiran suporter di kawasan Stasiun Wonokromo. Kebetulan para suporter tersebut usai melihat pertandingan sepak bola di Stadion Gelora Bung Tomo antara Persebaya dan Persela Lamongan.

“Kemudian kami mendapati ada segerombol suporter yang mencurigakan. Setelah itu, kami hentikan dan periksa. Salah satu yang kami periksa adalah handphone (HP) milik para pemuda itu,” ungkap Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Rudi Setiawan, Rabu (8/8).

Dari beberapa pemuda yang diperiksa, saat itu Galih terlihat gusar. Beberapa kali saat ia meminta kepada polisi agar segera menyerahkan HP-nya. Bahkan sesekali, ia berusaha merebut HP-nya dari pemeriksaan yang dilakukan polisi. Tentunya, hal ini membuat anggota yang memeriksa HP-nya curiga.

“Setelah diperiksa, kami mendapati chatting dari HP tersagka yang berisi transaksi narkoba. Kemudian kami kembangkan, hingga menggeledah kos milik tersangka,” terang Rudi.

Dari hasil penggeledahan itu, polisi mendapat sejumlah barang bukti. Di antaranya, 1 plastik besar berisi seberat 102.25 gram SS, 2 unit HP, seperangkat alat isap, pipet berisi SS, dan timbangan elektrik serta sebuah buku nota berisi nama pembeli SS. "Darisanalah, kami menetapkannya sebagai tersangka," lanjutnya.

Setelah melakukan pemeriksaan intensif terhadap Galih, penyidik mendapatkan sejumlah fakta. Selain mengedarkan, mahasiswa di salah satu universitas swasta di Surabaya ini juga pemakai SS. Hal itu dibuktikan dengan hasil tes urin yang posistif.

“Selain itu, tersangka masuk dalam peredaran narkoba jaringan lapas. Sebab setelah kami telusuri, narkoba yang dimiliki tersangka berasal dari seorang napi lapas Ngawi bernama Aduris,” tandas perwira dengan tiga melati di pundaknya ini.

Dari pemeriksaan itu, terungkap pula jika Galih juga sering menjadi kurir narkoda dalam jumlah lumayan besar. Sebab untuk sekali transaksi, dia bisa mengantarkan satu hingga 2 ons SS kepada pembeli. Dia mendapatkan upah Rp 1 juta per onsnya.

“Dalam perannya sebagai pengedar, biasanya tersangka memecah SS itu menjadi poket-poket kecil untuk dijual kembali. Galih biasa menjual SS itu ke sejumlah mahasiswa di kampusnya,” pungkas Rudi.

Saat diperiksa polisi,  Galih mengaku sudah menjalankan bisnisnya selama empat bulan terakhir. Ia mengatakan jika hasil dari bisnis narkobanya itu dipakainya untuk membayar kos dan kebutuhan hidup sehari-hari hingga membayar kuliah. (yua/no)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia