Rabu, 15 Aug 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Cuaca Mendukung, Panen Garam Jatim Melimpah

Rabu, 08 Aug 2018 10:00 | editor : Abdul Rozack

PANEN HASIL: Para pekerja tambak melakukan panen garam di sebuah lahan tambak garam di kawasan Benowo, Surabaya.

PANEN HASIL: Para pekerja tambak melakukan panen garam di sebuah lahan tambak garam di kawasan Benowo, Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Himpunan Masyarakat Petani Garam (HMPG) Jawa Timur memperkirakan produksi garam rakyat nasional tahun ini bisa mencapai 2,5 juta ton. Optimisme ini lantaran Juni hingga September adalah masa musim panen. 

Ketua Himpunan Masyarakat Petani Garam (HMPG) Jawa Timur M. Hasan mengatakan, produksi yang cukup melimpah tahun ini salah satunya dipengaruhi oleh faktor cuaca yang mendukung. Berbeda bila dibandingkan masa panen 2016, dimana terjadi cuaca buruk yang menyebabkan petani garam gagal panen.

“Kalau menurut perkiraan cuaca, tahun ini baik sampai Desember nanti. Jadi kami yakin produksi secara nasional kita bisa mencapai 2,5 juta ton, dan khusus Jatim produksinya 1,1 juta ton,” kata M Hasan, kemarin.

Menurut Hasan, proyeksi tahun ini lebih meningkat dibandingkan panen garam 2017 yang hanya mencapai 1,7 juta ton. Jumlah produksi yang tidak mencapai 2 juta ton ini dipengaruhi oleh sisa-sisa gagal panen yang terjadi pada 2016. 

Selain faktor cuaca, peningkatan produksi garam rakyat tahun ini juga didorong oleh adanya teknologi-teknologi baru dalam mengolah garam konsumsi, seperti teknologi ulir filter, geocell dan geomembram.

“Dari segi teknologi, pemerintah juga sudah membantu baik alat maupun infrastruktur irigasinya agar produksi garam petani lebih berkualitas dan melimpah,” tambahnya.

Produksi garam petani yang diproyeksi capai 2,5 juta ton itu juga diharapkan mendapat perhatian pemerintah terutama penentuan harga patokan petani (HPP) yang layak yakni terendah Rp 1.500 - Rp2.500 per kilogram tertinggi. Pihaknya berharap, dengan adanya HPP, harga garam petani tidak jatuh pada saat musim panen, yang ditambah dengan adanya impor garam industri ke Indonesia yang diperkirakan bisa merembes ke pasar garam konsumsi.

Sementara, harga garam petambak pada musim panen tahun ini berpotensi anjlok hingga jauh di bawah Rp 1.500 per kilogram, mengingat pada awal tahun pemerintah telah mengimpor garam industri yang diduga merembes ke pasar garam konsumsi. Menurut M Hasan, pada musim panen garam yang berlangsung sejak akhir Juni lalu, harga garam petambak terus mengalami penurunan.

“Awalnya harga garam Rp 2.500 per kilogram sekarang turun Rp 1.600 kilogram, dan sampai akhir musim panen September nanti bisa-bisa hargannya jatuh di bawah Rp 1.500 per kilogram,” terang Hasan.

Kondisi tersebut diperkirakan karena adanya impor garam pada Februari lalu yang diduga merembes ke pasar garam konsumsi. Untuk itu, petani garam meminta pemerintah segera membuat kebijakan HPP agar petani rakyat tidak merugi di kala musim panen. 

Menurut M. Hasan, pihaknya sudah memberikan usul kepada pemerintah terkait HPP agar ditentukan harga terendah senilai Rp 1.500 per kilogram dan harga tertinggi sesuai kualitas senilai Rp 2.500 per kilogram.

“Dengan HPP ini diharapkan harga bisa stabil, dan saat musim panen harga garam petani tidak anjlok. Hanya saja, sampai saat ini pemerintah belum merespon usulan para petani garam ini. Sehingga pendapatan petani garam terpaksa melorot. Biaya produksi petani garam rakyat sendiri berkisar antara Rp 500 – Rp 550 per kilogram. Ditambah biaya tenaga kerja yang setiap tahun meningkat,” pungkasnya. (cin/rud)

(sb/cin/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia