Senin, 10 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Cukai Rokok Naik, Buruh SKT Rawan Di-PHK

07 Agustus 2018, 09: 25: 39 WIB | editor : Wijayanto

CEKATAN: Para tenaga kerja sigaret kretek tangan (SKT) di pabrik rokok brand Apache di Rungkut.

CEKATAN: Para tenaga kerja sigaret kretek tangan (SKT) di pabrik rokok brand Apache di Rungkut. (ISTIMEWA)

SURABAYA - Kenaikan cukai rokok memberikan imbas negatif terhadap industri rokok tanah air. Kenaikan tarif cukai 10,04 persen yang  diberlakukan sejak 1 Januari 2018 dinilai membawa dampak multiplier effect.

Direktur Produksi PT Karyadibya Mahardhika (KDM) Maksin Arisandi mengatakan, secara year to date (YtD) kenaikan tarif cukai berimbas pada penurunan kinerja industri. Selain itu, menimbulkan pengurangan tenaga kerja di industri rokok, utamanya pabrik SKT (sigaret kretek tangan).

“Namun, untuk angka penurunannya kami masih belum memastikan. Tetapi, ada penurunan,” katanya di pabrik rokok dengan brand Apache itu, Jalan Rungkut Industri I Surabaya, Senin (6/8).

Menurut Maksin Arisandi, sebagai upaya mengatasi dampak multiplier effect dari kenaikan tarif cukai itu, tentu kesejahteraan tenaga kerja pabrik SKT perlu diperhatikan. Saat ini, di pabrik SKT yang memproduksi 2 miliar batang SKT dengan brand Apache itu mempekerjakan sebanyak 1.500 lebih tenaga kerja. Dari total tenaga kerja, kebanyakan adalah pegawai unskill yang tidak mengantongi pendidikan tinggi.

“Sehingga, tanpa pendidikan tinggi, mereka bisa bergabung dengan kami. Jadi itu sebagai nilai tambah untuk mengurangi pengangguran. Secara tidak langsung sebenarnya kami berperan untuk mengurangi pengangguran. Tetapi semisal produksi kian tergerus maka pasti akan berdampak pada PHK,” katanya.

Sementara, Head of Fiscal Affairs & Communications PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) Elvira Lianita mengatakan, pihaknya berharap supaya pemerintah mempertimbangkan kembali kebijakan tersebut.

“Karena saat ini industri rokok nasional sedang mengalami penurunan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun sejak 2016.  Penurunannya Sekitar 1-2 persen dan salah satu penyebabnya akibat cukai,” ujarnya.

Menurut Elvira, semua pelaku industri rokok pasti akan terimbas dengan kebijakan terkait kenaikan cukai yang menyebabkan harga rokok akan semakin mahal.

“Yang kami khawatirkan dengan semakin mahalnya harga rokok akibat cukai tinggi adalah dapat membuat masyarakat lebih memilih rokok murah atau rokok yang tidak membayar cukai alias rokok ilegal,” imbuhnya.

Sementara itu, Anggota Komisi V DPR RI Bambang Haryo juga menekankan agar pemerintah tidak semakin menaikkan cukai rokok. Apabila cukai semakin tinggi maka akan membuat daya beli masyarakat menurun. Otomatis juga akan menurunkan jumlah pajak yang didapat dari industri rokok.

“Yang akan tergerus dalam hal ini adalah UMKM. Sebab dari total UMKM yang ada di Indonesia, 15 persennya adalah penjual rokok. Ini berpotensi membuat mereka kehilangan kerja akibat tidak mampu lagi kulakan rokok,” ujarnya.

Di samping itu, Bambang memaparkan, secara nasional pada tahun 2018 ini sudah ada pengurangan tenaga kerja di industri rokok sekitar 5 persen akibat produksi yang kian menyusut. “Sudah banyak PHK di industri ini, terutama yang SKT. Kemudian permasalahannya siapa yang akan menerima buruh–buruh yang di PHK tersebut. Pengangguran jelas akan semakin besar,” lanjutnya. (cin/no)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia