Jumat, 15 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Sumbang 2.500 Buku ke Sekolah Imbas

02 Agustus 2018, 13: 34: 29 WIB | editor : Wijayanto

PEDULI PENDIDIKAN: Para siswa SMPN 26 mengacungkan buku yang siap disumbangkan kepada sekolah imbas.

PEDULI PENDIDIKAN: Para siswa SMPN 26 mengacungkan buku yang siap disumbangkan kepada sekolah imbas. (GINANJAR/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Program pertukaran kepala sekolah dan on the job learning (OJL) tahap I berakhir Rabu (1/8). Selanjutnya, kepala sekolah mitra dan kepala sekolah imbas diharuskan kembali ke Jakarta untuk mengikuti workshop tahap II yang diseleranggarakan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), hingga Jumat (3/8) mendatang.

Di Kota Surabaya, sebanyak 16 kepala sekolah imbas dari berbagai provinsi di Indonesia belajar kepada delapan sekolah mitra. Sekolah mitra tersebut di antaranya ada 5 SD negeri dan 3 SMP negeri, yakni SDN Bubutan  IV, SDN Jajartunggal III, SDN Kaliasin I, SDN Airlangga I, SDN Dr. Soetomo V. Sedangkan jenjang SMP ada SMPN 3, SMPN 6, dan SMPN 26 yang dimana masing-masing sekolah tersebut menjadi mitra dua sekolah imbas.

Kepala SMPN 26 Surabaya, Akhmat Suharto mengatakan, sekolahnya menjadi mitra dari SMPN 2 Lemboraya dan SMP Satu Atap Negeri Lembo, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Dua kepala sekolah itu sudah belajar penguatan dalam bidang manajerial, supervisi, dan pengembangan kewirausahaan selama enam hari.

“Saat kepala sekolah imbas datang ke SMPN 26, saya kenalkan kepada semua guru. Selanjutnya saya jelaskan mengenai manajerial 8 standar pendidikan,” kata Suharto saat dikonfirmasi, Rabu (1/8). Kemudian, dilakukan kegiatan supervisi yang diawali dengan pengaturan sesi.

Sebelum supervisi, para guru harus melapor kepada kepala sekolah dan dilanjutkan dengan pelaksanaan. Setelah pelaksanaan ada diskusi atau wawancara mengenai kelemahan atau kekurangan guru tersebut. Itu semua ia jelaskan kepada kepala sekolah imbas yang berkunjung ke sekolahnnya.

Suharto juga menjelaskan di bidang kewirausahaan dan diajarkan mengenai ecopreneur atau wirausaha lingkungan hidup. Salah satunya adalah kantin apung. Kantin apung milik SMPN 26 bebas 5P, yakni bebas penguat rasa, pemanis, pengawet, pewarna, dan pengental.

Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga mengajarkan cara membuat lubang biopori, pengelolaan sampah organik dan anorganik, hidroponik, pemanfaatan barang bekas, hingga green house. “Ini semua yang menjelaskan siswa,” ungkap kepala sekolah peraih penghargaan Indonesia Green Awards 2016 tingkat nasional ini. (gin/no)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia