Sabtu, 14 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Limbah Popok Racuni Ikan di Brantas

01 Agustus 2018, 16: 43: 12 WIB | editor : Wijayanto

PLASTIK DI PERUT IKAN: Mahasiswa pencinta lingkungan dan Ecoton menggelar aksi keprihatinan terhadap limbah popok yang mencemari Sungai Brantas hingga dimakan ikan.

PLASTIK DI PERUT IKAN: Mahasiswa pencinta lingkungan dan Ecoton menggelar aksi keprihatinan terhadap limbah popok yang mencemari Sungai Brantas hingga dimakan ikan. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Limbah popok yang mencemari Sungai Brantas akhir-akhir ini membuat prihatin sejumlah aktivis lingkungan Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) dan mahasiswa pencinta lingkungan Surabaya.

Ketua tim peneliti dari Ecoton, Andreas Agus Kristanto Nugroho menuturkan sampah popok mengandung bahan berbahaya hingga berada di dalam perut ikan.

“Kami temukan fibre dan serpihan plastik dalam lambung ikan Keting dan Ikan Rengking yang keduanya ialah ikan sungai favorit yang dikonsumsi masyarakat dan sering dijumpai di Sungai Brantas. Nah ini sangat memprihatinkan,” terangnya saat menggelar aksi di depan Gedung Grahadi, Surabaya,  Selasa (31/7).

Aksi tersebut merupakan bentuk protes agar pihak pemerintah melakukan upaya pembersihan limbah popok di Sungai Brantas. Andreas bersama Ecoton sudah melakukan penelitian terkait limbah popok ini sejak awal Juli 2018 lalu. Alhasil, sampel dari penelitian tersebut ikan yang menghuni Sungai Brantas terkontaminasi plastik fibre.

“Plastik tidak akan bisa dicerna, yang bisa dicerna yaitu hanya zat-zat yang ikut dengan micro plastik dan mengikat banyak bahan pencemar serta nantinya terakumulasi dalam tubuh ikan. Tentunya ikan itu yang kita konsumsi,” tutur alumni Universitas Airlangga ini.

Selain itu, puluhan aktivis membentangkan beberapa poster sindiran dengan gaya kekinian yang biasanya dituliskan di media sosial, pesan tersebut tentunya ditujukan kepada Gubernur Jatim Soekarwo. Beberapa Poster sindiran itu di antaranya 'Pakde Karwo Sekarang Jahat, Brantas Gak dirumat, popok nlecek sakarat-arat'.

Sedangkan untuk jenis ikan yang memakan limbah tersebut ada sekitar 5 sampai 6 jenis ikan dan lima di antaranya sudah terkontaminasi plastik fibre yang terkandung dalam limbah popok.

“Untuk dominasi paling banyak kami belum bisa tentukan. Penelitian ikan ini kami kumpulkan dari hulu daerah Mlirip, Wiringanom, Gunung Sari,” terangnya.

Direktur Eksekutif Ecoton Prigi Arisandi mengatakan demo yang dilakukannya itu bentuk upaya menagih janji Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kota Surabaya, produsen, masyarakat serta kementerian terkait yang telah sepakat untuk ikut mendeklarasian serta mencanangkan "Kali Brantas Bebas Popok 2020".

"Kami menagih janji pemerintah, karena dari kegiatan bersih-bersih kali yang kemarin (30/7) kita lakukan di sungai karang pilang masih mengevakuasi 5 kuintal popok bayi. Hal itu yang kami namakan pembiaaran pemerintah terhadap janji yang telah setahun dideklarasikan," katanya.

Ia menambahkan, dalam pengamatan yang dilakukannya efek dari timbunan popok itu juga membuat ekosistem Sungai Brantas termasuk ikan asli sungai tersebut ikut tercemar, karena dari 10 ekor dari lima jenis ikan yang diambilnya dari Sungai Brantas di dalam perutnya terdapat serpihan popok maupun plastik.(gin/no)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia